Ekonomi RI Diibaratkan Bom Waktu, Airlangga Tegaskan Fundamental Masih Solid

Ekonomi RI Diibaratkan Bom Waktu, Airlangga Tegaskan Fundamental Masih Solid

Terkini | inews | Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:07
share

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih solid di tengah kekhawatiran kondisi perekonomian nasional yang diibaratkan sebagai bom waktu. Dia menyebut pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen, inflasi terkendali dan cadangan devisa yang kuat menjadi penopang ketahanan ekonomi Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga menyusul gejolak pasar modal yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok akibat sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meski ketidakpastian global masih membayangi, dia menilai kondisi tersebut tidak mengubah kekuatan fundamental ekonomi nasional.

Menko Airlangga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Hal itu, menurutnya, menunjukkan perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan di tengah tekanan global.

"Tetapi ekonomi Indonesia secara fundamental masih solid dan terbukti diantara berbagai negara pertumbuhan ekonomi kita juga tertinggi," ujar Airlangga, dijumpai usai Rapat Koordinasi Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III 2026, Rabu (21/10/2026).

Selain pertumbuhan ekonomi, Airlangga menyoroti tingkat inflasi yang masih terkendali di kisaran 3 persen. Cadangan devisa Indonesia juga dinilai relatif kuat untuk menopang kebutuhan impor selama lima bulan.

"Termasuk di G20 di 5,45 persen, rata-rata dunia di 3 persen. Kemudian inflasi kita juga masih sekitar 3 persen yang jauh lebih rendah dibandingkan berbagai negara lain. Cadangan devisa kita juga relatif kuat untuk lima bulan impor. Indonesia sih confident," katanya.

Terkait gejolak pasar modal akibat sentimen MSCI, Airlangga menegaskan penilaian terhadap pasar saham Indonesia tidak hanya bergantung pada satu lembaga penyedia indeks. Dia menyebut FTSE Russell sebagai salah satu lembaga lain yang menjadi acuan investor global.

Menurut Airlangga, pemerintah tetap optimistis terhadap upaya pembenahan tata kelola pasar modal Indonesia. Dia menilai keberadaan sejumlah lembaga pemeringkat dan penyedia indeks memberi alternatif penilaian bagi investor.

"Kita sih confident saja dengan tata kelola yang sedang disiapkan dan Indonesia tidak tergantung hanya pada satu rating aja," ucapnya.

Topik Menarik