Osteoporosis Tak Hanya Hantui Lansia, Usia 20-an Sudah Harus Waspada!
JAKARTA, iNews.id - Osteoporosis atau pengeroposan tulang sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang baru muncul saat seseorang memasuki usia lanjut. Padahal, menjaga kekuatan tulang perlu dimulai sejak usia muda, bahkan ketika seseorang masih berusia 20-an.
Kondisi ini patut diwaspadai karena penurunan massa tulang dapat berlangsung tanpa disadari. Ketika tulang semakin rapuh, benturan ringan sekalipun berisiko menyebabkan patah tulang yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dokter Spesialis Ortopedi RS Pondok Indah – Pondok Indah dr. Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp. OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, menjelaskan bahwa osteoporosis merupakan kelainan tulang yang terjadi akibat berkurangnya massa tulang sehingga struktur tulang menjadi lebih rapuh.
"Secara biologis, kondisi tersebut berkaitan dengan ketidakseimbangan antara proses pembentukan tulang oleh osteoblas dan penyerapan tulang oleh osteoklas. Ketika massa tulang terus berkurang, risiko patah tulang pun meningkat," kata dr Rizky dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (21/10/2026).
Profil dan Pendidikan Moreno Soeprapto, Minta Maaf Usai Viral Video Call saat Rapat di DPR
Karena itu, menjaga kesehatan tulang sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak osteoporosis di kemudian hari.
Perempuan Lebih Berisiko Mengalami Osteoporosis
Menurut penjelasan dr. Rizky, osteoporosis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari proses penuaan, gangguan hormon, kekurangan nutrisi, hingga kurangnya aktivitas fisik.
Perempuan berusia di atas 50 tahun termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami osteoporosis. Kata dr Rizky, perbandingan risiko pada perempuan dan laki-laki masing-masing sekitar satu dari empat perempuan dan satu dari delapan laki-laki.
Salah satu faktor yang memengaruhi risiko pada perempuan adalah menopause. Setelah menstruasi berhenti, kadar hormon estrogen menurun. Padahal, hormon ini memiliki peran penting dalam mempertahankan kekuatan tulang.
"Meski demikian, osteoporosis tidak hanya berkaitan dengan usia dan jenis kelamin. Asupan kalsium yang tidak mencukupi, gangguan makan, kebiasaan merokok, konsumsi kafein dan alkohol secara berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik juga termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan," papar dr Rizky.
Dia melanjutkan, "Seseorang bahkan dapat memiliki lebih dari satu faktor risiko sekaligus. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tulang perlu dilakukan melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten."
Kalsium dan Vitamin D Penting untuk Kekuatan Tulang
Salah satu langkah pencegahan osteoporosis, kata dr. Rizky, adalah memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D.
Kalsium berperan dalam menjaga kekuatan tulang, sedangkan vitamin D membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. Artinya, kedua nutrisi tersebut saling berkaitan dalam mendukung kesehatan tulang.
Kalsium dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan, seperti susu, keju, yogurt, ikan tertentu, dan sayuran hijau. Sementara itu, vitamin D bisa diperoleh dari makanan tertentu serta paparan sinar matahari yang sesuai.
Selain itu, beberapa buah dapat melengkapi pola makan bergizi seimbang. Jeruk, misalnya, mengandung vitamin C yang berperan dalam pembentukan kolagen, salah satu komponen penting jaringan tulang.
Meski makanan bergizi berperan penting, tidak ada satu jenis makanan yang dapat menjamin seseorang terhindar dari osteoporosis. Pemenuhan nutrisi perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh secara keseluruhan.
"Jika asupan dari makanan tidak mencukupi atau terdapat indikasi medis tertentu, suplementasi kalsium dan vitamin D dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi dokter," ujarnya.
Rutin Berolahraga dan Hindari Kebiasaan yang Merusak Tulang
Selain nutrisi, aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tulang. Olahraga secara rutin dapat membantu mempertahankan massa tulang sekaligus mendukung kekuatan otot dan keseimbangan tubuh.
Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik atau kondisi ketika anggota tubuh jarang digunakan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan massa tulang.
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga perlu dihindari. Langkah lain yang dapat dilakukan adalah menjaga pola makan seimbang dan mendapatkan paparan sinar matahari pada waktu serta durasi yang sesuai.
Menurut penjelasan dr. Rizky, upaya pencegahan sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk membantu memperlambat penurunan massa tulang dan mengurangi risiko patah tulang pada masa mendatang.
Dengan membangun kebiasaan sehat sejak usia produktif, seseorang dapat berinvestasi untuk menjaga fungsi tulang hingga usia lanjut.
Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Mengalami Osteoporosis?
Osteoporosis tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan apabila seseorang memiliki faktor risiko atau membutuhkan penilaian kondisi tulang.
Dokter Rizky menjelaskan bahwa diagnosis osteoporosis tidak cukup hanya berdasarkan pemeriksaan klinis. Penilaian perlu didukung pemeriksaan kepadatan mineral tulang menggunakan alat khusus, yakni dual-energy X-ray absorptiometry (DXA).
Pemeriksaan ini dapat mengukur kepadatan tulang, umumnya pada tulang belakang dan panggul, serta membantu dokter menilai risiko osteoporosis berdasarkan hasil pengukuran dan kondisi pasien.
Dalam keadaan tertentu, pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mencari kemungkinan penyebab lain atau menilai metabolisme tulang. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup kadar kalsium, fosfor, dan alkaline phosphatase, sesuai kebutuhan klinis.
Meski menjaga kesehatan tulang perlu dimulai sejak usia muda, pemeriksaan DXA tidak otomatis diperlukan bagi setiap orang berusia 20-an. Dokter akan mempertimbangkan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko sebelum menentukan pemeriksaan yang sesuai.
Pada akhirnya, osteoporosis bukan alasan untuk baru memperhatikan tulang ketika usia bertambah. Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D, rutin berolahraga, menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan, serta melakukan pemeriksaan sesuai indikasi merupakan langkah penting untuk menjaga tulang tetap kuat.
Semakin dini kesehatan tulang diperhatikan, semakin besar kesempatan untuk mengurangi faktor risiko dan mempertahankan kualitas hidup hingga masa lanjut usia.










