Heboh Logam Misterius Ditemukan di Kebun Sawit Kalteng, BRIN Buka Suara

Heboh Logam Misterius Ditemukan di Kebun Sawit Kalteng, BRIN Buka Suara

Terkini | inews | Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:32
share

JAKARTA, iNews.id - Misteri benda logam berukuran besar yang ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai menemukan titik terang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga benda tersebut merupakan bagian dari sampah antariksa bekas roket China, ZhuQue-2E (ZQ-2E).

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin menjelaskan, dugaan tersebut didasarkan pada analisis lintasan orbit benda antariksa yang diperkirakan melintasi wilayah Kalimantan sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi pada Minggu (18/10/2026). Benda logam itu ditemukan pekerja perkebunan pada Senin (19/10/2026), sehari setelah warga melaporkan mendengar suara gemuruh dari langit sekitar pukul 17.30 WIB.

Thomas mengatakan, hasil penelusuran menunjukkan bekas roket ZhuQue-2E bergerak dari arah utara menuju selatan melintasi wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasan orbitnya berada di sekitar Sampit, berdekatan dengan waktu kejadian yang dilaporkan warga.

“Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit. Waktu ini sesuai dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari tersebut,” kata Thomas dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/10/2026).

Menurut Thomas, kesesuaian waktu dan lintasan orbit menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi asal benda tersebut. Hasil penelusuran juga menunjukkan bahwa lintasan itu merupakan lintasan terakhir bekas roket sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi.

“Data menunjukkan bahwa itu merupakan lintasan orbit terakhir bekas roket tersebut sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi. Kesesuaian antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E,” ungkapnya.

Thomas menjelaskan, ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace.

Roket tersebut menggunakan bahan bakar metana cair dan oksigen cair atau teknologi propulsi liquid oxygen–liquid methane (methalox). Teknologi ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan industri antariksa untuk meningkatkan efisiensi sistem peluncuran.

ZhuQue-2E memiliki dua tingkat roket dan merupakan versi pengembangan dari keluarga ZhuQue-2. Roket ini dirancang untuk membawa satelit ke orbit rendah Bumi maupun orbit sinkron Matahari.

Berdasarkan informasi peluncuran yang dipublikasikan Xinhua, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng, China, pada 14 Oktober 2026 dengan membawa 10 satelit.

“Misi peluncuran tersebut dinyatakan berhasil setelah seluruh satelit ditempatkan pada orbit yang telah ditentukan,” jelasnya.

Namun, keberhasilan peluncuran satelit tidak berarti seluruh bagian roket akan terus berada di antariksa. Bagian roket yang sudah tidak digunakan dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu sebelum ketinggiannya berkurang akibat hambatan atmosfer.

“Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian roket yang tidak lagi digunakan dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu. Seiring waktu, hambatan atmosfer secara bertahap menurunkan ketinggian orbit hingga bagian tersebut memasuki kembali atmosfer Bumi,” terangnya.

Dalam kasus ZhuQue-2E, badan roket yang diduga menjadi sumber serpihan di Sampit tercatat dengan nomor identifikasi NORAD 101070 dan kode internasional 2026-234L.

Mengapa Sampah Antariksa Bisa Jatuh ke Bumi?

Thomas menjelaskan, sampah antariksa merupakan benda buatan manusia yang berada di ruang angkasa dan tidak lagi menjalankan fungsinya. Benda tersebut dapat berupa satelit yang tidak aktif, bagian roket, maupun pecahan komponen wahana antariksa.

Ketika memasuki kembali atmosfer, benda antariksa bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga mengalami pemanasan ekstrem akibat interaksi dengan udara. Sebagian besar material dapat terbakar, meleleh, atau terpecah menjadi bagian-bagian lebih kecil.

“Proses tersebut terkadang menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan Bumi, bahkan disertai suara dentuman atau gemuruh ketika terjadi gelombang kejut di atmosfer,” ujar Thomas.

Meski demikian, tidak semua bagian wahana antariksa habis terbakar selama proses tersebut. Material tertentu yang lebih tahan panas dapat bertahan melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bumi.

“Fenomena inilah yang menjadi salah satu kemungkinan penjelasan terhadap ditemukannya kepingan logam berukuran besar di perkebunan sawit Sampit,” katanya.

Meski analisis orbit memberikan petunjuk kuat, Thomas menegaskan bahwa pemeriksaan fisik tetap penting untuk memastikan identitas komponen yang ditemukan. Pemeriksaan tersebut mencakup kecocokan bentuk, material, serta penandaan pada benda dengan informasi teknis roket.

Topik Menarik