AI Bikin Belajar Lebih Cepat, tapi 91 Persen Pelajar Khawatir Kurang Paham

AI Bikin Belajar Lebih Cepat, tapi 91 Persen Pelajar Khawatir Kurang Paham

Teknologi | inews | Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:18
share

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 91 persen pelajar khawatir penggunaan kecerdasan buatan (AI) membuat mereka kurang memahami materi secara mendalam. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemudahan yang ditawarkan AI dan pemahaman pelajar terhadap materi yang dipelajari.

Survei HP Futures 2026 yang melibatkan lebih 6.000 pelajar dari 37 negara, termasuk 2.097 pelajar Indonesia, mengungkapkan kebiasaan pelajar dalam mengingat materi. Di tengah meningkatnya penggunaan AI, sebanyak 52 persen responden masih memilih metode cetak atau tulisan tangan untuk membantu mengingat pelajaran. Sebanyak 17 persenmenjadikan ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.

Temuan ini memperlihatkan penggunaan AI untuk mempercepat proses belajar belum tentu membuat pelajar merasa lebih memahami materi. Kecepatan menyelesaikan tugas dan kemampuan menyerap pengetahuan menjadi dua hal yang perlu dibedakan dalam penerapan teknologi di dunia pendidikan.

Meski memiliki kekhawatiran tersebut, pelajar Indonesia tetap optimistis terhadap masa depan karier di tengah perkembangan AI. Sebanyak 67 persen responden meyakini AI akan menciptakan lebih banyak peluang kerja daripada menghilangkannya.

Selain itu, 84 persen pelajar merasa mampu menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak. Sebanyak 88 persen juga menilai pendidikan yang diterima saat ini telah mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja.

Chief Commercial Officer HP sekaligus Ketua HP Futures, David McQuarrie menilai perkembangan AI menuntut sistem pendidikan untuk memperkuat kemampuan yang tetap relevan di tengah perubahan teknologi.

“Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi,” ujar David dalam keterangan pers Selasa (20/10/2026).

Survei tersebut juga memetakan keterampilan yang dinilai penting oleh pelajar Indonesia untuk menghadapi pasar kerja masa depan. Kreativitas menempati posisi teratas dengan 67 persen, disusul kemampuan berpikir kritis sebesar 63 persen, serta komunikasi dan kolaborasi sebesar 58 persen.

Sementara itu, literasi AI dan digital berada di posisi kelima dengan 40 persen. Hasil ini menunjukkan pelajar tidak hanya memandang penguasaan teknologi sebagai bekal masa depan, tetapi juga menempatkan kemampuan berpikir dan berinteraksi sebagai keterampilan penting.

Temuan tersebut menjadi perhatian di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI untuk mencari informasi, merangkum materi, dan membantu menyelesaikan tugas. Kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan keterampilan mengevaluasi informasi, memahami konsep, serta menghasilkan pemikiran sendiri.

Director & Global Head Education Business and Strategy HP, Mayank Dhingra mengatakan, pelajar Indonesia merasa terbantu oleh AI untuk bekerja lebih cepat, tetapi tetap khawatir terhadap kedalaman pemahaman mereka.

“Suara pelajar harus mendapat tempat yang kuat dalam diskusi, seiring sistem pendidikan menentukan arah kurikulum dan model penilaian ke depan,” kata Mayank.

Laporan HP Futures 2026 merekomendasikan agar literasi, numerasi, dan pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa tetap menjadi fondasi pendidikan. Pendekatan kreatif dan praktik langsung juga dinilai penting untuk memperkuat pemahaman sekaligus mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan pada masa depan.

Laporan tersebut turut mendorong pembuat kebijakan untuk memasukkan keterampilan jangka panjang, seperti kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi, ke dalam inti sistem pendidikan. Dukungan terhadap pendidik dan pengembangan model penilaian juga menjadi bagian dari rekomendasi untuk menghadapi perubahan akibat AI.

Topik Menarik