AC Milan Dihantui Masalah Serius! Taktik Ruben Amorim Mulai Makan Korban?
MILAN, iNews.id – AC Milan mulai menghadapi persoalan serius dalam penerapan strategi Ruben Amorim. Meski belum terkalahkan di Liga Italia 2026-2027, intensitas permainan yang diterapkan pelatih asal Portugal itu dinilai terlalu menguras energi pemain hingga membuat performa Rossoneri sulit stabil sepanjang 90 menit.
Masalah tersebut menjadi sorotan media Italia, La Gazzetta dello Sport, setelah AC Milan mengalahkan Atalanta 3-2 di Stadion San Siro, Minggu (18/10/2026) malam WIB. Kemenangan itu memang menjaga rekor tak terkalahkan Rossoneri, tetapi sekaligus memperlihatkan kelemahan yang perlu segera dibenahi Amorim.
Menurut analisis La Gazzetta dello Sport, permainan Milan sebenarnya mulai berkembang ke arah positif. Identitas tim semakin terlihat melalui intensitas tinggi, pergerakan agresif, dan kemampuan menciptakan peluang. Namun, pendekatan tersebut diduga membutuhkan energi terlalu besar sehingga sulit dipertahankan hingga pertandingan berakhir.
Kontingen Indonesia Raih 2 Medali Emas di Asian Games 2026 Hari Ini Minggu 20 September 2026?
Kondisi fisik pemain menjadi perhatian karena Milan memperlihatkan penurunan performa setelah tampil dominan selama satu jam. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan skuad Rossoneri menjalankan sistem Amorim secara konsisten, terutama ketika jadwal pertandingan semakin padat.
Taktik Ruben Amorim Dinilai Terlalu Menguras Energi
Kekhawatiran tersebut muncul setelah Milan nyaris kehilangan kemenangan yang sebelumnya tampak sudah berada dalam genggaman. Rossoneri sempat memimpin tiga gol tanpa balas melalui Goncalo Ramos, Adrien Rabiot, dan Mario Gila sebelum Atalanta memberikan perlawanan sengit.
Ramos membuka keunggulan melalui penalti pada menit ke-24. Rabiot kemudian menggandakan skor pada menit ke-43, disusul gol Gila pada menit ke-57 yang membawa Milan unggul 3-0.
Milan sebenarnya berpeluang memperbesar keunggulan ketika mendapatkan penalti kedua. Namun, Ramos gagal memaksimalkan kesempatan tersebut setelah tendangannya digagalkan kiper Atalanta, Marco Carnesecchi.
Selepas unggul tiga gol, intensitas permainan Milan mengalami penurunan. Atalanta memanfaatkan situasi itu dengan memperkecil ketertinggalan melalui Gianluca Gaetano pada menit ke-66 dan Nikola Krstovic pada menit ke-81.
Tekanan Atalanta membuat pertahanan Rossoneri bekerja semakin keras pada pengujung pertandingan. Mike Maignan bahkan harus melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk memastikan Milan mempertahankan keunggulan 3-2.
Perubahan drastis tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Amorim. La Gazzetta dello Sport menyoroti kemungkinan sistem permainan dengan tuntutan fisik tinggi menjadi salah satu penyebab Milan kesulitan mempertahankan kualitas performa selama pertandingan berlangsung.
Meski demikian, faktor kelelahan belum dapat disebut sebagai satu-satunya penyebab. Penurunan konsentrasi dan perubahan situasi pertandingan juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam evaluasi permainan Milan.
Ruben Amorim Dapat Pujian, tetapi Masih Punya PR Besar
Di balik persoalan tersebut, Ruben Amorim tetap mendapatkan apresiasi atas perkembangan permainan AC Milan. Pelatih berusia 41 tahun itu dinilai mulai berhasil membangun identitas tim yang lebih jelas, terutama dalam organisasi serangan dan keberanian menekan lawan.
Pujian juga diberikan atas keberanian Amorim melakukan rotasi pemain. Dia membuat tujuh perubahan dalam susunan pemain utama setelah Milan menghancurkan RB Salzburg 4-0 pada pertandingan Liga Europa, Kamis (15/10/2026).
Meski melakukan perubahan besar, Milan tetap mampu menghasilkan tiga gol ke gawang Atalanta. Kondisi ini menunjukkan kedalaman skuad mulai memberikan kontribusi terhadap penerapan pendekatan taktik Amorim.
La Gazzetta dello Sport turut mengapresiasi kemampuan Rossoneri menciptakan peluang serta perkembangan karakter permainan mereka. Milan dinilai sudah menunjukkan kemajuan, terutama dalam membangun serangan dengan tempo tinggi.
Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan daya tahan permainan. Amorim masih dituntut menemukan keseimbangan antara intensitas pressing, efektivitas serangan, dan pengelolaan energi pemain.
Tantangan tersebut menjadi semakin penting mengingat Milan harus membagi fokus antara kompetisi domestik dan Liga Europa. Rotasi pemain saja belum tentu cukup apabila intensitas permainan terus mengalami penurunan pada fase akhir pertandingan.
Dengan rekor tak terkalahkan yang masih terjaga, AC Milan memiliki modal positif untuk melanjutkan persaingan di Serie A. Namun, evaluasi terhadap tuntutan fisik dalam sistem Ruben Amorim menjadi pekerjaan penting agar Rossoneri tidak terus menghadapi risiko kehilangan kendali permainan pada menit-menit akhir.










