Beda Donor Darah dan Donor Plasma, Ini Penjelasan Dokter

Beda Donor Darah dan Donor Plasma, Ini Penjelasan Dokter

Gaya Hidup | inews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:45
share

JAKARTA, iNews.id - Donor darah dan donor plasma sama-sama dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan medis pasien. Namun, keduanya memiliki perbedaan, mulai dari komponen yang diambil hingga pemanfaatannya untuk pengobatan.

Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, Dr dr Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K) menjelaskan, darah terdiri atas komponen seluler dan plasma. Plasma merupakan bagian cair darah yang mengandung berbagai zat, terutama protein.

Pada donor darah biasa, darah diambil secara utuh sehingga mengandung berbagai komponen darah. Darah tersebut kemudian dapat dipisahkan menjadi komponen seperti sel darah merah, trombosit, dan plasma sesuai kebutuhan pasien.

Sementara pada donor plasma, komponen yang dikumpulkan secara khusus adalah plasmanya. Komponen sel darah lainnya dapat dikembalikan ke tubuh donor melalui proses yang dikenal sebagai plasmaferesis.

Perbedaan tersebut membuat donor plasma memiliki karakteristik tersendiri. Di sejumlah negara, donor plasma bahkan dapat dilakukan dengan interval lebih sering dibandingkan donor darah biasa.

“Untuk donor plasma itu banyak di negara-negara memberikan batasan bahwa kita bahkan bisa donor plasma dua minggu sekali,” ujar dr. Teguh dalam International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 bersama Takeda, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, frekuensi donor plasma yang lebih sering memungkinkan jumlah plasma yang dikumpulkan juga lebih banyak. Hal ini penting karena sebagian pasien membutuhkan terapi yang berasal dari produk olahan plasma secara berkelanjutan.

“Artinya apa? Artinya kita bisa memberikan sesuatu untuk pasien itu dengan lebih banyak, lebih sering,” katanya.

Plasma yang didonasikan tidak hanya dapat digunakan langsung untuk transfusi. Plasma juga dapat diproses melalui fraksionasi untuk menghasilkan Produk Obat Derivat Plasma (PODP).

Dari proses tersebut dapat dihasilkan berbagai produk, seperti albumin, imunoglobulin termasuk IVIg dan SCIG, serta faktor pembekuan VIII dan IX. Produk-produk tersebut digunakan untuk membantu menangani berbagai kondisi medis, termasuk hipoalbuminemia, sejumlah penyakit autoimun dan kondisi tertentu, serta hemofilia.

“Plasma ini pun sebenarnya bisa diolah menjadi berbagai macam derivatnya atau komponen-komponen kecilnya yang lebih spesifik,” kata dr Teguh.

Dia menambahkan, kualitas plasma sangat dipengaruhi kondisi donor. Karena itu, pemeriksaan tertentu tetap diperlukan untuk memastikan donor memenuhi persyaratan dan plasma yang dikumpulkan memiliki kualitas yang sesuai.

“Kalau di donornya juga kadarnya tidak memenuhi, maka produknya juga tidak akan memenuhi,” ujarnya.

Perbedaan tersebut, donor darah dan donor plasma sama-sama memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan. Donor darah dapat menyediakan berbagai komponen darah untuk kebutuhan transfusi, sedangkan plasma juga dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan terapi bagi pasien yang membutuhkan.

Topik Menarik