Indonesia Bidik Nilai Ekstra dari Ekspor Komoditas, Industri Maritim Mulai Diperkuat

Indonesia Bidik Nilai Ekstra dari Ekspor Komoditas, Industri Maritim Mulai Diperkuat

Terkini | inews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:57
share

JAKARTA, iNews.id - Indonesia didorong merebut porsi lebih besar dari nilai ekonomi yang dihasilkan ekspor komoditas strategis melalui penguatan industri maritim nasional. Penguatan tersebut mencakup industri pelayaran, galangan kapal, hingga penyerapan tenaga pelaut Indonesia.

Hal ini disampaikan dalam forum Danantara's Maritime Industry Dialogue: Accelerating Indonesia's Maritime Corridor Development yang digelar Danantara di Wisma Danantara Indonesia, Selasa (6/10/2026).

Direktur Utama PT Armada Niaga Nusantara (Arnantara) Prof Amarulla Octavian yang menjadi salah satu panelis menjelaskan pentingnya memperkuat ekosistem industri pelayaran dan angkutan laut nasional.

Forum tersebut turut dihadiri Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, COO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara /Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Setia Diarta, CTO Danantara Sigit Puji Santosa, serta sejumlah direktur utama BUMN, perusahaan dan pimpinan asosiasi industri maritim.

Amarulla menuturkan, penguatan industri pelayaran diperlukan agar Indonesia tidak hanya mendapatkan manfaat dari komoditas yang diekspor, tetapi juga dari aktivitas pengangkutannya. PT Arnantara disebut menjadi operating holding yang bermitra dengan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk memperkuat ekosistem industri pelayaran dan angkutan laut nasional.

Dalam program kerja 100 hari, perusahaan tersebut menyusun RKAP 2026, RJPP 2027-2032, serta berbagai standar operasional prosedur (SOP) sebagai dasar operasionalisasi perusahaan dan pembagian tugas.

Penguatan armada juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Kebutuhan kapal-kapal besar untuk mengangkut komoditas strategis dipenuhi melalui sejumlah skema, mulai dari pengadaan kapal bekas, pembangunan kapal baru hingga penyewaan kapal.

Banyaknya kapal yang menjalani perawatan maupun pembangunan kapal baru dinilai akan ikut meningkatkan aktivitas industri galangan kapal nasional.

Selain itu, penerapan mekanisme Cost, Insurance and Freight (CIF) dalam ekspor komoditas diyakini dapat mendorong peningkatan premi asuransi maritim. Penguatan aktivitas pelayaran juga berpotensi membuka lapangan kerja bagi ribuan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal-kapal nasional.

Kolaborasi dengan sejumlah perusahaan pelayaran dan jasa kepelabuhanan di dalam negeri juga dinilai penting untuk memperkuat ekosistem maritim. Kerja sama tersebut antara lain dapat melibatkan PT Pelni, PT Pelindo, PT ASDP Indonesia Ferry dan berbagai pihak lainnya.

Topik Menarik