Benarkah Obat Hipertensi Bikin Ginjal Rusak? Dokter Ungkap Fakta Ini

Benarkah Obat Hipertensi Bikin Ginjal Rusak? Dokter Ungkap Fakta Ini

Gaya Hidup | inews | Selasa, 29 September 2026 - 14:38
share

JAKARTA, iNews.id - Anggapan obat hipertensi yang dikonsumsi dalam jangka panjang dapat merusak ginjal masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, justru hipertensi yang tidak terkontrol dan tidak diobati secara rutin dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal hingga gagal ginjal.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang, Profesor Dr dr Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), membantah kekhawatiran bahwa konsumsi obat darah tinggi dalam jangka panjang menjadi penyebab utama kerusakan ginjal.

Menurutnya, banyak kasus kerusakan ginjal justru terjadi pada penderita hipertensi yang tidak disiplin mengonsumsi obat. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya pasien hipertensi yang menjalani cuci darah.

"Termasuk yang paling sering adalah ginjal, kerusakan ginjal. Coba deh main-main ke unit cuci darah. Mayoritas adalah penderita hipertensi yang tidak minum obat. Iya. Bukan karena sebab lain, mayoritas karena hipertensi. Tanya sama dokter ginjal," kata Profesor Yoga saat ditemui usai konferensi pers World Heart Day di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

Prof Yoga menjelaskan hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Penyakit ini berbeda dengan penyakit seperti pilek yang dapat sembuh setelah mendapatkan pengobatan dalam waktu singkat.

Sebab itu, pasien tidak dianjurkan menghentikan obat secara sepihak hanya karena merasa kondisi tubuh sudah membaik. Penghentian obat dapat membuat tekanan darah kembali meningkat tanpa disadari.

Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kerusakan organ target atau target organ damage (TOD). Organ yang dapat terdampak antara lain ginjal, jantung, dan mata, serta meningkatkan risiko terjadinya stroke.

Prof Yoga juga mencontohkan penelitian yang membandingkan pasien hipertensi yang tetap mengonsumsi obat dengan pasien yang menghentikan pengobatan. Hasilnya menunjukkan tekanan darah kembali meningkat pada kelompok yang berhenti minum obat dan diikuti komplikasi serius.

"Ada satu penelitian bagus, orang-orang hipertensi dikasih antihipertensi, terkontrol. Kemudian dibagi dua kelompok: satu meneruskan obatnya, satu berhenti. Ternyata kelompok yang meneruskan obatnya bagus. Yang berhenti obat tentu tensinya naik lagi, gagal ginjal, jantungnya bengkak, itu terjadi," kata Prof Yoga.

Dia menambahkan sekitar 80 persen penderita hipertensi membutuhkan lebih dari satu jenis obat untuk membantu mengontrol tekanan darah. Pengobatan tersebut perlu dilakukan sesuai evaluasi dan anjuran dokter.

Hipertensi juga kerap disebut sebagai silent disease karena dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat seseorang bisa merasa sehat meski tekanan darahnya tetap tinggi.

Sebab itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan kepatuhan terhadap pengobatan menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi. Pasien juga tidak dianjurkan mengubah dosis atau menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Bahaya hipertensi yang tidak terkontrol terhadap organ vital juga menjadi perhatian pemerintah. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan pengendalian hipertensi menjadi salah satu upaya menekan kesakitan dan kematian akibat penyakit kritis.

"Program kesehatan fokus pada upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian KJSU: kanker, jantung, stroke, dan ginjal. Salah satu yang kita lakukan adalah menjaga hipertensi, DM, gangguan lipid, dan juga obesitas," kata dr Siti Nadia yang bergabung secara virtual dalam acara tersebut.

dr Siti Nadia mengimbau masyarakat melakukan skrining kesehatan secara rutin. Bagi mereka yang telah didiagnosis hipertensi, dia meminta pasien disiplin mengikuti arahan medis agar tekanan darah tetap terkontrol.

Penanganan yang tepat sejak dini dinilai penting untuk mencegah hipertensi berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat dan mengancam kesehatan organ vital.

Sementara itu, Direktur Siloam Hospitals TB Simatupang, dr Dewi Wiguna, menegaskan komitmen rumah sakit dalam meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kesehatan jantung.

"Pada tanggal 5 Maret 2024, kami Siloam Hospitals TB Simatupang bersama-sama dengan Kementerian Kesehatan dan juga InaHRS dan juga profesional medis lainnya meluncurkan kampanye Let’s Check The Beat, di mana pada kampanye ini pesan yang ingin kami bawa sangat sederhana: mari kita kenali, mari kita lakukan deteksi dini, dan bersama-sama kita menjaga kesehatan jantung yang menerapkan gaya hidup sehat," kata dr Dewi.

Dia mengatakan kampanye tersebut tidak berhenti setelah peluncuran. Berbagai kegiatan edukasi dan amplifikasi terus dilakukan hingga September sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung.

"Tentunya setelah launching, kita enggak mau acara terhenti. Kita mau ini berkesinambungan karena kita menganggap acara ini penting dan baik untuk masyarakat pada umumnya. Jadi, kami dengan komitmen dan tentunya dukungan dari dokter-dokter kami di sini, setelah launching kita melakukan berbagai macam kegiatan amplifikasi dari bulan Maret sampai dengan bulan September," kata dr Dewi.

Topik Menarik