Langit Sampit Menguning, Cahaya Matahari Redup Tertutup Kabut Asap Karhutla
SAMPIT, iNews.id - Langit Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berubah menguning dalam dua hari terakhir akibat kabut asap tebal. Kondisi tersebut membuat sinar matahari tampak redup hingga menyerupai bola merah dari permukaan kota.
Kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Tebalnya asap juga mengganggu aktivitas warga karena menimbulkan bau menyengat, mata perih, hingga keluhan sesak napas.
Seorang warga Sampit, Siti Khodijah, mengaku merasakan langsung dampak kabut asap tersebut. Dia menyebut kondisi udara membuat mata terasa perih dan pernapasan terganggu.
"Perih ke mata, sesak napas. Jarak pandang cukup bisa. Semoga cepat padam aja harapannya," ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Fenomena langit menguning tersebut dijelaskan Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Asan Sampit, Rahmat Wahidin Abdi.
Menurutnya, perubahan warna cahaya matahari terjadi akibat proses pembiasan ketika sinar matahari melewati kabut asap.
"Itu pembiasan dari sinar matahari. Karena memang cahaya matahari tidak terpancar langsung ke bumi namun terbias kabut asap," ujarnya.
Rahmat mengatakan ketebalan kabut asap di wilayah Sampit cukup tinggi hingga menghalangi pengamatan terhadap kondisi awan. Situasi tersebut menunjukkan pekatnya asap yang menyelimuti wilayah setempat.
"Kabut asap sangat tebal bahkan awan tidak bisa kami amati," katanya.
Selain berdampak terhadap aktivitas masyarakat, kabut asap juga mengganggu operasional penerbangan. Jarak pandang yang terbatas membuat kondisi di sekitar bandara tidak memenuhi persyaratan keselamatan untuk proses pendaratan maupun lepas landas.
"Dampaknya untuk penerbangan sangat terganggu karena jarak pandang minumum tidak tercukupi untuk landing dan take off," ucapnya.
Kabut asap telah dirasakan warga selama hampir tiga bulan seiring masih berlangsungnya karhutla di sejumlah titik. Petugas gabungan dan relawan terus melakukan upaya pemadaman, terutama pada lahan gambut yang api di dalamnya masih berpotensi menyala kembali.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap kebakaran segera dapat dikendalikan sehingga kualitas udara membaik dan aktivitas warga kembali normal.










