Bukan Cuma Bikin Stres, Sering Overthinking Dikaitkan dengan Risiko Penurunan Kognitif

Bukan Cuma Bikin Stres, Sering Overthinking Dikaitkan dengan Risiko Penurunan Kognitif

Gaya Hidup | inews | Rabu, 23 September 2026 - 05:27
share

JAKARTA, iNews.id - Bukan cuma bikin stres, kebiasaan overthinking atau berpikir negatif secara berulang juga dikaitkan dengan perubahan pada otak. Pola pikir negatif yang terus berulang berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif serta sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

Hal ini diungkap dokter Adam Prabata melalui akun X. Dia membagikan hasil penelitian yang meneliti hubungan repetitive negative thinking (RNT) dengan perubahan kemampuan kognitif dan penanda biologis Alzheimer.

“Sering berpikir negatif bisa berujung pada penurunan kemampuan otak,” tulis Adam dalam unggahannya.

Adam menjelaskan, orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif secara berulang dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan otak. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan risiko depresi dan kecemasan.

Kemampuan otak yang terdampak dalam penelitian mencakup fungsi kognitif secara keseluruhan, termasuk memori.

“Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif itu bisa meningkatkan risiko terjadinya penurunan kemampuan otak dalam bentuk Alzheimer. Selain itu ada peningkatan risiko depresi dan kecemasan,” ujarnya.

Adam mengutip studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020. Penelitian tersebut melibatkan 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal untuk melihat perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu.

Sebagian peserta juga menjalani pemindaian PET untuk melihat keberadaan amyloid dan tau di otak. Peneliti kemudian menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat repetitive negative thinking yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan kognisi global, termasuk memori jangka pendek maupun memori yang tertunda.

Selain itu, pola berpikir negatif berulang dikaitkan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau di bagian entorhinal cortex. Wilayah tersebut merupakan salah satu bagian otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.

Repetitive negative thinking sendiri mencakup pola pikiran negatif yang terus berulang. Contohnya rumination, yakni terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu, serta kekhawatiran berulang mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.

Meski menemukan kaitan dengan perubahan kognitif dan penanda biologis Alzheimer, penelitian tersebut tidak membuktikan overthinking secara langsung menyebabkan Alzheimer.

“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” kata Adam.

Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.

Adam pun mengingatkan temuan tersebut dapat menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif. “Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” ujarnya.

Topik Menarik