SANFFEST 2026 Dorong Film Santri Tembus Panggung Dunia, Bidik Karya Berkualitas dari Pesantren

SANFFEST 2026 Dorong Film Santri Tembus Panggung Dunia, Bidik Karya Berkualitas dari Pesantren

Gaya Hidup | inews | Selasa, 22 September 2026 - 11:23
share

JAKARTA, iNews.id - Sinema karya santri mulai mendapat ruang lebih luas melalui Santri Film Festival (SANFFEST) 2026. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, festival ini membawa ambisi untuk menjadikan karya sinematik anak pesantren tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus panggung perfilman internasional.

SANFFEST 2026 mengusung tema 'The Verses in Motion' yang menerjemahkan nilai-nilai Al-Quran dan ayat-ayat kehidupan ke dalam bahasa visual yang universal. 

Festival ini digagas Neno Warisman bersama Kementerian Kebudayaan di bawah arahan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dengan Yayasan Indonesia Mengasuh Berbudaya (YIMB) sebagai pelaksana.

SANFFEST 2026 bidik panggung dunia. (Foto: Istimewa)

Aktor sekaligus sutradara muda yang merupakan alumni pesantren, Syakir Daulay, menilai karya film dari lingkungan pesantren memiliki potensi besar untuk berbicara mengenai berbagai persoalan kehidupan.

Menurut Syakir, film yang lahir dari kalangan santri tidak harus selalu identik dengan cerita religi yang disampaikan melalui dialog atau ceramah. Nilai-nilai kesantrian justru dapat hadir secara natural melalui karakter, konflik, alur cerita, hingga cara film tersebut melihat realitas sosial.

"Di SANFFEST 2026 ini kami ingin menegaskan bahwa tidak ada film religi yang kaku. Semua film adalah refleksi dari nilai kehidupan," ujar Syakir dalam konferensi pers peluncuran SANFFEST 2026 di kawasan Ciledug, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).

Syakir mengatakan santri juga memiliki kemampuan untuk melihat persoalan di luar lingkungan pesantren. Salah satu nilai yang dapat menjadi kekuatan adalah prinsip Iqra, yakni membaca dan memahami berbagai realitas kehidupan.

Dengan perspektif tersebut, karya santri diharapkan tidak berhenti pada penggambaran kehidupan pesantren. Mereka dapat mengangkat persoalan sosial, keluarga, persahabatan, pendidikan, hingga berbagai fenomena kehidupan dengan pendekatan sinematik yang kuat.

Pandangan serupa disampaikan Neno Warisman. Dia berharap SANFFEST dapat menjadi jembatan bagi para sineas dari kalangan santri untuk memperkenalkan karya mereka ke ruang perfilman yang lebih luas.

"Targetnya adalah bagaimana sinema santri bisa menjadi jembatan menuju dunia," kata Neno.

Tema 'The Verses in Motion' menjadi bagian dari upaya tersebut. Nilai yang bersumber dari Al-Quran tidak semata-mata diterjemahkan secara verbal, tetapi diolah menjadi cerita dan visual yang dapat dipahami oleh penonton dari berbagai latar belakang.

Ada Lebih dari 42.000 Pesantren

Direktur Program SANFFEST 2026 sekaligus Pembina YIMB, Gus Ahmad Ubaidillah, melihat potensi besar dari komunitas pesantren di Indonesia. Berdasarkan data EMIS Kementerian Agama yang disampaikannya, terdapat lebih dari 42.000 pesantren di berbagai wilayah Indonesia.

Jumlah tersebut menjadi salah satu alasan SANFFEST ingin membuka ruang yang lebih besar bagi lahirnya karya-karya baru dari kalangan santri.

"Target kami bukan hanya semakin banyak karya yang masuk, tetapi bagaimana karya-karya tersebut memiliki kualitas artistik dan kekuatan cerita sehingga mampu berbicara di ruang perfilman yang lebih luas," ungkap Gus Ahmad.

Pada SANFFEST 2026, peserta dapat mengirimkan film cerita pendek dengan durasi 7 hingga 12 menit. Festival ini juga menghadirkan penghargaan baru, yakni Poster Terbaik, untuk mengapresiasi aspek visual dalam proses promosi sebuah karya film.

Pendaftaran SANFFEST 2026 telah dibuka dan akan berlangsung hingga 1 November 2026. Informasi mengenai panduan serta pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi SANFFEST dan akun Instagram @sanfest.id.

Tahun ini, SANFFEST membuka tiga kategori utama. Pertama, Santri Pelajar untuk peserta maksimal berusia 20 tahun. Kedua, Santri Umum bagi peserta berusia 21 hingga 30 tahun, termasuk alumni pesantren, santri universitas, dan santri kalong.

Kategori ketiga adalah Santri Inklusi, yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas fisik maupun sensorik serta peserta yang berasal dari wilayah 3T atau daerah terluar, terdepan, dan tertinggal.

Melalui kategori tersebut, SANFFEST 2026 tidak hanya mencari jumlah karya sebanyak-banyaknya, tetapi juga ingin memperluas kesempatan bagi berbagai kelompok santri untuk menyampaikan cerita mereka melalui medium film.

Jika konsistensi ini terus dibangun, festival tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu ruang bagi lahirnya sineas muda dari pesantren sekaligus memperkenalkan perspektif santri melalui bahasa sinema yang dapat menjangkau penonton lebih luas.

Topik Menarik