Pioner Pengembangan Desa Atsiri di Mojokerto, Dosen Ubaya dan UWKS Raih Penghargaan MURI
Empat dosen Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) meraih piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut diberikan atas prestasinya sebagai “Pionir Pengembangan Desa Atsiri" (melalui integrasi akademik dan pemberdayaan masyarakat).
Penghargaan ini sebagai apresiasi atas keberhasilan Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) dengan judul “Pengembangan Desa Atsiri, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.”
Baca juga: Pendaftaran Sekolah Kedinasan PTDI-STTD 2026 Dibuka, Jurusan IPS Bisa Daftar
Program ini dilaksanakan di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur periode 2024–2026, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Deretan Dai Nasional Meriahkan Tabligh Akbar Nasional dan Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah
Piagam penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Surat Keputusan MURI Nomor 12877/R.MURI/VIII/2026 dan diserahkan di Jakarta pada 21 Agustus 2026.Empat akademisi yang menerima penghargaan tersebut adalah Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo. (Dosen Fakultas Farmasi Ubaya); Dr. Dra. Azminah. (Dosen Fakultas Farmasi Ubaya); Ir. Dwie Retna Suryaningsih (Dosen Fakultas Pertanian UWKS); serta Grace Felicia Djayapranata (Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya).
Program Pengembangan Desa Atsiri merupakan bentuk kolaborasi lintas perguruan tinggi yang mengintegrasikan keilmuan akademik dengan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi dosen dari bidang farmasi, pertanian, serta bisnis dan ekonomi menjadi kekuatan dalam mengembangkan potensi tanaman atsiri di Desa Jatijejer secara terpadu.
Melalui program tersebut, pengembangan Desa Atsiri tidak hanya diarahkan pada aspek budidaya tanaman, tetapi juga mencakup pemanfaatan dan pengembangan produk kesehatan berbasis atsiri, peningkatan keberdayaan masyarakat, serta penguatan aspek ekonomi dan keberlanjutan usaha. Pendekatan lintas disiplin ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dari potensi lokal sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat desa.
Pelaksanaan program selama tiga tahun, 2024–2026, juga mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada masyarakat. Dukungan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung implementasi berbagai kegiatan pengabdian dan pemberdayaan di Desa Jatijejer.
Rektor Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Benny Liianto, menyampaikan apresiasi atas capaian rekor MURI yang diraih tim UBAYA. Ia menilai capaian tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap karya akademik yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.“Saya salut dan apresiasi atas karya yang berdampak bagi masyarakat dan mendapat pengakuan MURI oleh Bu Marisca dan tim. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara,” ujar Dr. Benny Liianto.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PDB Ubaya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Program Pengembangan Desa Atsiri. Apresiasi disampaikan kepada Ubaya dan UWKS, DPPM Kemendiktisaintek, Pemerintah Desa Jatijejer, Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Direktorat Jenderal Perkebunan, serta Kementerian Pertanian yang telah mendukung terlaksananya program secara berkelanjutan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para mahasiswa Ubaya dan UWKS yang turut terlibat secara aktif dalam pelaksanaan setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam memperkuat proses pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Jatijejer.
Penghargaan MURI tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas inovasi dan konsistensi pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan kolaborasi Ubaya dan UWKS. Capaian ini juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam mengembangkan potensi desa melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, pengembangan Desa Atsiri diharapkan dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang dapat direplikasi di wilayah lain. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan pemangku kepentingan diharapkan terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan program sekaligus meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Desa Jatijejer.
Penghargaan MURI ini menjadi bukti bahwa sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat dapat melahirkan inovasi yang berdampak sekaligus mendapat pengakuan sebagai sebuah capaian pionir dalam pengembangan Desa Atsiri di Indonesia.










