Tak Cuma Obat, Teknologi TMS Bisa Stimulasi Area Otak Pasien Afasia

Tak Cuma Obat, Teknologi TMS Bisa Stimulasi Area Otak Pasien Afasia

Gaya Hidup | inews | Minggu, 20 September 2026 - 13:16
share

JAKARTA, iNews.id - Tiba-tiba sulit mengucapkan kata, tidak mampu menyampaikan apa yang ada di pikiran, atau kesulitan memahami ucapan orang lain bisa menjadi tanda afasia. Kondisi yang berkaitan dengan gangguan fungsi bahasa di otak ini kini mendapat perhatian dari perkembangan teknologi neurosains, salah satunya melalui Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).

Teknologi tersebut memungkinkan dokter memberikan stimulasi pada area tertentu di otak secara lebih terarah. Dengan pendekatan ini, penanganan gangguan komunikasi pada pasien tidak hanya mengandalkan obat-obatan.

Dokter Spesialis Saraf Siloam Hospitals Lippo Village, Prof. Dr. dr. Yusak M T Siahaan, Sp.S(K), mengatakan perkembangan neurosains telah mengubah pendekatan dalam menangani berbagai gangguan saraf.

Para dokter yang terlibat dalam teknologi TMS di acara press conference Siloam Neuroscience Summit 2026. (Foto: Mei Sada Sirait)

"Dulu pengobatan hanya bisa secara obat farmakoterapi atau suntikan biasa," kata Prof Yusak dalam konferensi pers Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu (19/9/2026).

Menurut dia, perkembangan teknologi kini memungkinkan dokter menggunakan neuromodulasi untuk memberikan stimulasi pada area otak yang menjadi target penanganan.

Salah satunya melalui TMS, teknologi yang memanfaatkan stimulasi magnetik untuk memengaruhi aktivitas pada area tertentu di otak tanpa harus melakukan tindakan pembedahan.

Prof Yusak mencontohkan penggunaannya pada pasien afasia. Gangguan tersebut dapat membuat seseorang mengalami kesulitan menggunakan atau memahami bahasa sehingga kemampuan berkomunikasi terganggu.

"Orang yang dulunya afasia, enggak bisa bicara, stres dan sebagainya, yang sudahlah mengalah, sudah menerima saja obat-obatan, sekarang sudah bisa dineuromodulasi," ujarnya.

Stimulasi Otak Lebih Terarah

Prof Yusak menjelaskan salah satu perkembangan penting dalam neurosains adalah kemampuan dokter menentukan area otak yang menjadi target stimulasi dengan lebih presisi.

Pendekatan tersebut membuat terapi tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga dapat diarahkan pada bagian otak yang berkaitan dengan fungsi tertentu.

"Otaknya dengan presisi area otak mana yang perlu distimulasi dengan alat yang namanya TMS (Transcranial Magnetic Stimulation), itu bisa menghasilkan yang tadinya tidak bisa berkomunikasi menjadi lebih baik,” tuturnya.

"Bukan dengan obat-obatan, tapi dengan presisi tepat pada area yang mau dicapai itu," lanjut Prof Yusak.

Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam dunia neurosains. Diagnosis dan tata laksana penyakit saraf kini semakin diarahkan pada pendekatan yang lebih detail, termasuk dengan memanfaatkan teknologi untuk memahami kondisi otak secara lebih mendalam.

Namun, penggunaan TMS bukan berarti seluruh pasien afasia akan otomatis kembali berbicara normal. Kondisi setiap pasien dapat berbeda dan penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab, lokasi gangguan pada otak, serta kondisi klinis masing-masing.

Teknologi Buka Peluang Baru untuk Pasien Stroke

Perkembangan teknologi neurosains juga membuka peluang baru bagi pasien stroke yang mengalami gangguan komunikasi.

Prof Yusak menyebut Brain-Computer Interface (BCI) sebagai salah satu teknologi yang dapat dikembangkan untuk membantu pasien yang kesulitan menyampaikan keinginannya.

Menurut dia, BCI berpotensi dikolaborasikan dengan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menerjemahkan maksud atau keinginan pasien yang mengalami hambatan berbicara.

"Penggunaan Brain-Computer Interface untuk menolong orang stroke itu harus dikolaborasi dengan AI, supaya akhirnya AI bisa menemukan ya bagaimana cara orang mau berbicara gitu, apa keinginan orang," jelasnya.

Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai bidang. Dokter saraf dan bedah saraf, misalnya, perlu bekerja bersama ahli teknologi dan bidang terkait untuk mengembangkan sistem yang dapat digunakan dalam penanganan pasien.

Bagi Prof Yusak, kemajuan neurosains pada akhirnya bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru. Teknologi tersebut harus mampu membawa manfaat nyata bagi pasien melalui diagnosis dan tata laksana yang semakin tepat.

"Semua hasil yang didapat, baik kombinatif, baik melewati disiplin ilmu, kemudian perbaikan makin dekat presisi pada diagnosis dan tata laksana, itu bukan membuat makin jauh dengan para pasien," tuturnya.

"Karena kalau itu tidak sampai kepada pasien, maka dua yang di atas menjadi tidak berguna," kata Prof Yusak.

Topik Menarik