Ibu Hamil Jauhi Polusi! Paru-Paru Janin Bisa Terganggu hingga Dewasa

Ibu Hamil Jauhi Polusi! Paru-Paru Janin Bisa Terganggu hingga Dewasa

Gaya Hidup | inews | Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:59
share

JAKARTA, iNews.id – Ibu hamil perlu lebih waspada terhadap paparan polusi udara. Bukan hanya berdampak pada kesehatan ibu, udara kotor yang terhirup selama kehamilan dikaitkan dengan gangguan perkembangan paru anak yang dampaknya dapat dirasakan hingga usia dewasa awal.

Ahli Paru Prof Erlina Burhan mengungkapkan temuan tersebut berdasarkan penelitian terbaru di Inggris. Menurutnya, janin yang terpapar polusi berisiko alami gangguan pertumbuhan paru-paru.

"Ada satu temuan penelitian yang menurut saya penting untuk kita renungkan bersama. Sebuah studi terbaru di Inggris menunjukkan, polusi udara yang dihirup anak sejak dalam kandungan dapat memperlambat perkembangan parunya, dan dampaknya bisa dirasakan hingga usia dewasa awal," kata Prof. Erlina di Instagram, dikutip Kamis (20/8/2026).

Penelitian tersebut memantau lebih dari 5.000 orang yang lahir di kawasan Bristol pada era 1990-an. Para peneliti mengikuti perkembangan paru-paru peserta sejak lahir hingga usia 24 tahun.

Usia 24 tahun menjadi perhatian karena pada usia tersebut fungsi paru manusia umumnya berada di titik puncak dan pertumbuhan paru telah berhenti.

Prof. Erlina menjelaskan, dampak paparan polusi bukan hanya berupa gangguan pernapasan yang muncul dalam waktu dekat. Paparan sejak dini dapat dikaitkan dengan perkembangan kapasitas paru yang lebih lambat.

"Memperlambat pertumbuhan paru artinya, kapasitas paru anak untuk menampung dan mengalirkan udara berkembang lebih lambat dari yang seharusnya. Bayangkan sebuah wadah yang idealnya membesar seiring bertambahnya usia, tapi karena polusi, proses membesarnya jadi tertahan," jelasnya.

Dengan kata lain, paparan polusi sejak masa kehamilan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena perkembangan paru anak berlangsung dalam waktu panjang, tidak berhenti setelah bayi lahir.

Temuan penelitian juga menunjukkan masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan paru. Pada fase ini, paru-paru sedang mengalami pertumbuhan pesat.

"Temuan pentingnya, dampak paling besar justru terjadi pada masa remaja, yaitu periode ketika paru sedang tumbuh paling pesat. Semakin banyak polusi yang dihirup sejak dini, semakin besar pula potensi paru tidak mencapai kapasitas maksimalnya kelak," ujar Prof. Erlina.

Karena itu, perlindungan terhadap anak dari paparan polusi tidak hanya penting setelah mereka lahir. Upaya mengurangi paparan juga perlu diperhatikan sejak masa kehamilan.

Polusi dan ISPA Sama-Sama Perlu Diwaspadai

Ancaman polusi udara juga menjadi perhatian di tengah tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat 15,6 juta kasus ISPA hingga Agustus 2026, sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 15,4 juta kasus.

Kemenkes menyebut perubahan musim dan memburuknya kualitas udara menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tren ISPA. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat memperburuk kualitas udara karena menghasilkan polutan, termasuk partikulat halus PM2,5.

Kondisi tersebut membuat kelompok rentan, termasuk anak-anak, perlu mendapat perhatian lebih.

Cara Mengurangi Paparan Polusi

Prof. Erlina mengingatkan masyarakat, termasuk ibu hamil dan orang tua, untuk melakukan sejumlah langkah guna mengurangi paparan polusi udara.

Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara sedang buruk. Saat harus keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan.

Selain itu, kualitas udara di dalam rumah perlu dijaga dengan memastikan sirkulasi udara tetap bersih dan menghindari sumber polusi seperti asap rokok.

“Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu, mulai dari membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara sedang buruk, menggunakan masker yang sesuai untuk anak, sampai menjaga sirkulasi udara bersih di dalam rumah. Semua ini adalah bentuk investasi untuk melindungi kesehatan paru anak sejak dini,” pungkas Prof. Erlina.

Topik Menarik