Abu Anak Krakatau Diprediksi Bertahan 2 Hari di Jabar, BMKG Soroti Cuaca dan Arah Angin
BANDUNG, iNews.id - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah Jawa Barat (Jabar) dalam satu hingga dua hari ke depan. BMKG menyebut kondisi cuaca, terutama arah dan kecepatan angin, menjadi faktor yang memengaruhi lama bertahannya abu di udara.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Bandung terus memantau pergerakan dan konsentrasi abu vulkanik di wilayah Jabar. Berdasarkan hasil paper test, jumlah abu yang terpantau di Bandung Raya mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya.
Meski intensitasnya menurun, masyarakat di sejumlah wilayah masih melaporkan keberadaan abu vulkanik. Kondisi tersebut menunjukkan sisa abu masih dapat terbawa angin dan memengaruhi wilayah lain di Jabar.
Saat ini, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat dan barat daya. Pergerakan tersebut mengikuti angin yang bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan rata-rata dua hingga enam knot.
BMKG memperkirakan abu vulkanik dapat bertahan hingga satu atau dua hari mendatang. Namun, durasi tersebut dapat berubah bergantung pada perkembangan cuaca serta arah dan kecepatan angin.
"Abu vulkanik itu biasanya bertahan 1-2 hari ke depan, namun ke depannya masih dilihat lagi perkembangannya karena sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca terutama arah dan kecepatan angin," ujar Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Bandung, Mia Fadhila, Senin (7/9/2026).
Wilayah Jabar bagian barat, termasuk Sukabumi dan Bogor, masih merasakan dampak sebaran abu vulkanik. Karena itu, pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui perubahan arah pergerakan abu.
Dia mengimbau, agar masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada selama abu vulkanik masih terpantau.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar, warga dianjurkan menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
BMKG juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik. Kewaspadaan tetap diperlukan hingga kondisi udara dinyatakan kembali normal.










