Gempa di NTT Masih Belum Berhenti, BMKG Catat Sudah Terjadi 5.089 Gempa Susulan

Gempa di NTT Masih Belum Berhenti, BMKG Catat Sudah Terjadi 5.089 Gempa Susulan

Terkini | inews | Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:58
share

JAKARTA, iNews.id - Rentetan gempa bumi masih kerap mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan belum berhenti. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 5.089 gempa susulan terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 hingga pendataan Sabtu (22/8/2026) pukul 08.00 WIB. 

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, aktivitas gempa susulan Flores masih dalam pemantauan pihaknya. BMKG terus melakukan pengawasan untuk memastikan perkembangan kondisi kegempaan di wilayah terdampak gempa NTT.

"BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," kata Wijayanto, Sabtu (22/8/2026).

Aktivitas gempa susulan kembali terasa pada Sabtu (22/8/2026) pagi. Gempa terbaru tercatat terjadi pukul 08.31 WIB dengan kekuatan magnitudo 5,1.

Hasil pemutakhiran BMKG menunjukkan gempa tersebut memiliki kedalaman 16 kilometer. Episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,07° Lintang Selatan dan 120,66° Bujur Timur.

Lokasi gempa berada sekitar 64 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT. BMKG memastikan gempa tersebut tidak memiliki potensi tsunami.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa M5,1 tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

BMKG mencatat guncangan gempa M5,1 dirasakan dengan intensitas IV MMI di sejumlah wilayah, seperti Lamba Leda dan Sambi Rampas, Manggarai Timur, serta Reok, Manggarai.

Masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik menghadapi aktivitas gempa yang masih berlangsung. Warga juga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," ujar Wijayanto.

Topik Menarik