Tips Tetap Aman Beraktivitas di Tengah Ancaman Polusi, Wajib Baca!
JAKARTA, iNews.id - Ancaman polusi udara tinggi membuat masyarakat perlu lebih cermat saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Bukan berarti harus berhenti beraktivitas sepenuhnya, tetapi paparan polusi perlu dikurangi dan tubuh harus mendapat perlindungan yang cukup.
Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama mengingatkan masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara dan cuaca. Sebab, ketika udara tercemar terjadi bersamaan dengan cuaca panas dan kering, tubuh dapat menghadapi dua tekanan sekaligus.
Berikut sejumlah tips yang dapat dilakukan agar tetap aman beraktivitas di tengah ancaman polusi udara tinggi. Simak ulasan selengkapnya di artikel ini.
8 Tips Tetap Aman Beraktivitas di Tengah Ancaman Polusi Udara
1. Cek kualitas udara sebelum keluar rumah
Sebelum beraktivitas di luar, biasakan memantau kualitas udara terlebih dahulu. Jika indeks kualitas udara atau kadar PM2.5 sedang tinggi, aktivitas di luar sebaiknya dikurangi atau dipindahkan ke waktu ketika kualitas udara lebih baik.
Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi durasi tubuh terpapar polutan.
2. Kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan
Olahraga atau aktivitas fisik berat membuat frekuensi dan volume pernapasan meningkat. Karena itu, ketika kualitas udara sedang buruk, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi.
Jika tetap ingin berolahraga, pertimbangkan aktivitas dengan intensitas lebih ringan atau pilih lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik.
3. Gunakan masker yang dapat menyaring partikel halus
Masker dapat digunakan sebagai salah satu perlindungan ketika harus beraktivitas di tengah polusi tinggi.
Terutama ketika kadar PM2.5 meningkat, gunakan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus dan pastikan penggunaannya sesuai agar perlindungan lebih optimal.
4. Lindungi tubuh dari panas
Perlindungan saat berada di luar ruangan tidak cukup hanya dengan masker. Saat cuaca terik, masyarakat juga perlu melindungi tubuh dari paparan panas dan sinar matahari.
Dokter Ngabila menyarankan penggunaan perlindungan dari ujung kepala hingga kaki, seperti payung atau topi, sunscreen, lip balm, kacamata hitam, pakaian ringan berwarna putih atau cerah, serta alas kaki.
Pakaian berwarna cerah dapat membantu memantulkan cahaya sehingga tubuh tidak terlalu banyak menyerap panas.
5. Jangan tunggu haus untuk minum
Cuaca panas meningkatkan risiko kehilangan cairan. Karena itu, masyarakat disarankan membawa tumbler dan minum secara berkala, tanpa menunggu rasa haus muncul.
"Minum sedikit-sedikit tapi sering," menjadi prinsip yang dapat diterapkan untuk membantu menjaga kecukupan cairan selama beraktivitas.
Kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda, sehingga jumlah minum perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, aktivitas, suhu lingkungan, serta kondisi kesehatan masing-masing.
6. Hindari aktivitas outdoor saat panas paling terik
Jika tidak mendesak, aktivitas di luar ruangan sebaiknya tidak dilakukan pada periode ketika paparan panas sedang tinggi, terutama sekitar pukul 10.00 hingga 15.00.
Memilih waktu aktivitas yang lebih sejuk dapat membantu mengurangi beban panas yang diterima tubuh.
Viral! Kakek Berikan Pelampung Terakhir kepada Cucu Sesaat Sebelum KM Nurul Salsa Tenggelam
7. Kelompok rentan perlu lebih membatasi paparan
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru dan jantung perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Kelompok tersebut sebaiknya mengurangi durasi aktivitas di luar ruangan dan lebih berhati-hati ketika muncul keluhan setelah terpapar polusi maupun panas.
8. Kenali tanda bahaya
Jangan memaksakan diri tetap beraktivitas apabila tubuh mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Jika muncul sesak berat, nyeri dada, pusing hebat, lemas, atau penurunan kesadaran, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis.
Bukan Berarti Harus Berhenti Beraktivitas
Menurut dr. Ngabila, ancaman polusi udara tidak berarti masyarakat harus menghentikan seluruh aktivitas di luar ruangan.
Yang lebih penting adalah melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi lingkungan. Masyarakat perlu mengetahui kapan kualitas udara sedang buruk, mengurangi paparan, menggunakan perlindungan yang sesuai, serta menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Dengan begitu, aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan risiko kesehatan yang muncul akibat polusi udara dan cuaca panas.









