Orang yang Sering Marah-Marah Bisa Kena Gangguan Irama Jantung
JAKARTA – Kebiasaan meluapkan amarah ternyata bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung. Menurut dokter spesialis jantung, ledakan emosi yang terjadi berulang kali dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung atau aritmia, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan tangkapan layar edukasi dari akun Threads miliknya mengenai hubungan antara kebiasaan marah-marah dan risiko gangguan irama jantung.
"Ngasih tau aja kalau yang suka marah-marah apa lagi sampai ngamuk-ngamuk beresiko kena gangguan irama jantung dibanding yang bisa kendalikan amarahnya," tulis dr. Bobby.
Dalam keterangan unggahan tersebut, dr. Bobby menjelaskan bahwa amarah dapat memengaruhi cara kerja jantung. Saat seseorang marah, tubuh akan melepaskan hormon stres, seperti adrenalin dan noradrenalin, yang menyebabkan denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, serta sistem kelistrikan jantung menjadi lebih mudah terpicu.
"Marah bukan hanya memengaruhi emosi, tetapi juga dapat memengaruhi kerja jantung. Saat seseorang marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan noradrenalin. Hormon ini menyebabkan denyut jantung menjadi lebih cepat, tekanan darah meningkat, dan sistem kelistrikan jantung menjadi lebih mudah terpicu," jelasnya.
Risiko tersebut akan semakin tinggi pada orang yang memiliki penyakit jantung, hipertensi, gangguan elektrolit, atau individu yang memang memiliki kerentanan terhadap gangguan irama jantung.
"Pada orang yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan elektrolit, atau bahkan pada sebagian orang yang tampak sehat tetapi rentan, lonjakan hormon stres ini dapat memicu aritmia, yaitu gangguan irama jantung," tambah dr. Bobby.
Henti Jantung
Ia juga menyebut sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ledakan emosi dapat memicu fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF), takikardia ventrikel, hingga henti jantung mendadak pada sebagian individu.
"Mengapa bisa terjadi? Karena saat marah terjadi ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Aktivitas saraf simpatis meningkat tajam sehingga sel-sel otot jantung menjadi lebih mudah mengalami gangguan impuls listrik. Bila kondisi ini berulang terus-menerus, risiko gangguan irama jantung juga dapat meningkat," ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut dapat dicegah dengan mengelola emosi secara lebih baik. Salah satu langkah yang disarankan adalah mengenali pemicu kemarahan dan memberi jeda sebelum bereaksi, misalnya dengan menghitung hingga 10 atau meninggalkan situasi yang memicu emosi.
"Bagaimana cara mencegahnya? Kenali pemicu kemarahan. Beri jeda sebelum bereaksi (misalnya hitung sampai 10 atau tinggalkan situasi sejenak)," tutur dr. Bobby.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur, rutin berolahraga, serta melakukan teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan atau zikir sesuai keyakinan masing-masing.
"Tidur yang cukup karena kurang tidur meningkatkan aktivitas saraf simpatis. Rutin berolahraga dengan intensitas sedang minimal 150 menit per minggu. Latih teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau zikir sesuai keyakinan," tambahnya.
Dari sisi pola hidup, dr. Bobby menyarankan untuk membatasi konsumsi kafein berlebihan, alkohol, serta menghindari rokok. Pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol juga penting dilakukan, terutama bagi penderita penyakit jantung.
"Batasi konsumsi kafein berlebihan, alkohol, dan hindari rokok. Kendalikan tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta rutin minum obat bila memiliki penyakit jantung," jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami jantung berdebar, pusing, hampir pingsan, atau pingsan setelah marah.
"Bila sering mengalami jantung berdebar, pusing, hampir pingsan, atau pingsan setelah marah, segera periksakan diri ke dokter. Marah itu sesuatu yang wajar kita rasakan, tetapi perlu dilatih agar dapat disalurkan dengan cara yang bijak dan lebih positif," pungkasnya.









