Banyak Koperasi Gagal, Hatta Taliwang Ingatkan Tantangan yang bakal Dihadapi Kopdes
JAKARTA, iNews.id - Direktur Institute Soekarno Hatta sekaligus salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Muhammad Hatta Taliwang, menyoroti sejumlah persoalan yang membuat koperasi di Indonesia banyak mengalami kegagalan. Menurutnya, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian dalam pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Hatta menilai rendahnya rasa saling percaya antaranggota menjadi salah satu faktor yang membuat koperasi sulit berkembang. Kondisi itu, menurut dia, berbeda dengan koperasi di Jepang yang ditopang tingkat kepercayaan dan kedisiplinan anggotanya.
"Mengapa koperasi banyak gagal di Indonesia? Saya pertama, beda dengan di Jepang. Di Jepang itu koperasi, anggotanya rasa saling percayanya tinggi. Kalau di sini rasa saling curiganya tinggi," kata Hatta dalam diskusi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut Hatta, persoalan tersebut relevan menjadi perhatian dalam pengembangan Kopdes Merah Putih. Sebab, koperasi desa tidak cukup hanya dibentuk secara kelembagaan, tetapi harus mampu membangun kepercayaan dan rasa memiliki dari masyarakat yang menjadi anggotanya.
Selain kepercayaan, Hatta menyoroti kualitas manajemen koperasi. Dia mengatakan masih terdapat koperasi yang pengurusnya tidak memahami akuntansi, bisnis dan pengelolaan usaha secara profesional.
"Begitu juga manajemennya. Kalau di kita ini kan ada pengurusnya tidak tahu akuntansi, tidak paham bisnis, tidak profesional," ujarnya.
Menurutnya, aspek profesionalisme menjadi penting apabila Kopdes Merah Putih ingin menjadi kekuatan ekonomi di tingkat desa. Pengelolaan koperasi, kata Hatta, harus didukung sumber daya manusia yang memahami bisnis serta mampu mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel.
Hatta juga menilai koperasi perlu terhubung dengan rantai industri. Menurut dia, koperasi akan sulit berkembang apabila hanya menjalankan aktivitas perdagangan tanpa memiliki hubungan yang jelas dengan pemasok, industri, maupun pasar.
BI Catat Kinerja Industri Manufaktur Terjaga di Kuartal II-2026, Ini Proyeksinya untuk Kuartal III
Hal tersebut menjadi tantangan bagi Kopdes Merah Putih agar keberadaannya tidak hanya menjadi unit distribusi barang di tingkat desa. Kopdes dinilai perlu memiliki model bisnis yang jelas dan terhubung dengan potensi ekonomi desa, sehingga aktivitas koperasi dapat menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Hatta juga mengkritik pola pembentukan koperasi yang dilakukan secara top-down atau pengambilan keputusan dari tingkat tertinggi. Menurutnya, koperasi yang sehat semestinya dibangun berdasarkan kesepakatan dan musyawarah para anggota.
"Koperasi kita itu didirikan top-down. Padahal kalau koperasi menurut Bung Hatta itu harus dari kesepakatan, musyawarah dan sebagainya dari anggota. Itu baru bisa jadi sehat," kata Hatta.
Karena itu, pengembangan Kopdes Merah Putih dinilai perlu memastikan keterlibatan masyarakat desa sebagai anggota sekaligus pemilik koperasi. Dengan demikian, koperasi tidak sekadar menjadi lembaga yang hadir karena program pemerintah, tetapi tumbuh berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan masyarakat desa.
Hatta turut menyoroti persoalan tata kelola dan korupsi yang menurutnya menjadi salah satu masalah koperasi di Indonesia. Dia menilai aspek pengawasan dan transparansi harus diperkuat agar koperasi tidak kembali menghadapi persoalan yang sama.










