DPD Juluki Jokowi Bapak Infrastruktur, Ini Penjelasannya
JAKARTA, iNews.id - Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menyematkan julukan kepada seluruh presiden terdahulu. Salah satunya Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang disebut 'Bapak Infrastruktur'.
Anggota DPD dari daerah pemilihan Lampung, Bustami Zainudin menjelaskan, julukan itu didasarkan pada berbagai pembangunan infrastruktur selama dua periode kepemimpinan Jokowi. Bustami menilai, pembangunan infrastruktur yang dilakukan di berbagai daerah selama pemerintahan Jokowi menjadi alasan kuat untuk menyematkan julukan tersebut.
“Menurut saya, ketika Pak Jokowi disebut sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia, itu bukan sekadar memberikan julukan. Ada fakta yang bisa kita lihat dan rasakan di lapangan. Hampir di seluruh daerah, masyarakat merasakan hadirnya pembangunan infrastruktur selama beliau memimpin,” ujar Bustami dalam keterangan resmi, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pembangunan infrastruktur pada era Jokowi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Pembangunan juga diarahkan untuk memperkuat konektivitas dan membuka akses ekonomi di berbagai wilayah Indonesia. Pembangunan jalan, jembatan, jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan dan berbagai infrastruktur pendukung disebut jadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan nasional.
Dia menilai pembangunan infrastruktur memiliki arti penting bagi daerah karena mampu membuka wilayah yang sebelumnya terisolasi, memperlancar mobilitas masyarakat, menekan biaya distribusi, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Sebagai anggota DPD yang mewakili daerah, kami melihat sendiri bagaimana pembangunan infrastruktur memberikan perubahan bagi masyarakat. Ada daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, kemudian aksesnya terbuka. Ada sentra produksi yang semakin mudah terhubung dengan pasar. Ini adalah warisan pembangunan yang manfaatnya tidak berhenti ketika sebuah pemerintahan berganti,” kata Bustami.
Dia menilai penghargaan terhadap karya pemimpin terdahulu bukan berarti mengabaikan kekurangan yang pernah terjadi. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap kontribusi nyata sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan nasional.
“Yang paling penting adalah bagaimana karya yang sudah baik dilanjutkan, disempurnakan, dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Pembangunan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena pergantian kepemimpinan. Apa yang sudah menjadi fondasi harus kita rawat dan terus kita kembangkan,” katanya.
Bustami juga mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dia berharap pemerintahan saat ini terus memperkuat pembangunan yang berorientasi pada pemerataan sekaligus melanjutkan fondasi pembangunan yang telah diletakkan pemerintahan sebelumnya.
“Bagi kami di daerah, pembangunan itu bukan sekadar angka dan statistik. Pembangunan adalah jalan yang bisa dilalui, jembatan yang menghubungkan, irigasi yang menghidupkan pertanian, pelabuhan yang membuka perdagangan, dan akses yang membuat masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” katanya.
Sebelumnya, Ketua DPD Sultan B Najamudin memberi penghormatan khusus kepada para presiden terdahulu dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD Tahun 2026 yang digelar Jumat (14/8/2026). Menariknya, Sultan menyampaikan penghormatan tersebut dengan menyebut sejumlah capaian dan julukan yang melekat pada setiap presiden selama memimpin Indonesia.
"Izinkan kami menundukkan hormat kepada para pemimpin bangsa terdahulu. Setiap presiden republik ini adalah negarawan dengan capaian nyata pada masanya masing-masing," kata Sultan.
Sultan menyebut, Presiden pertama RI Soekarno sebagai Bapak Proklamator. Presiden kedua Soeharto disebut sebagai Bapak Pembangunan. Kemudian, Presiden ke-3 BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi, dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme.
Lalu, Presiden ke-5 Megawati Sukarnoputri disebut sebagai Srikandi Konstitusi. Sementara, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut Bapak Perdamaian, dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) disebut sebagai Bapak Infrastruktur.










