Kisah Siswa Yatim Piatu Papua Pegunungan Berhasil Jadi Paskibraka Nasional, Impian sejak SD

Kisah Siswa Yatim Piatu Papua Pegunungan Berhasil Jadi Paskibraka Nasional, Impian sejak SD

Terkini | inews | Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:01
share

JAKARTA, iNews.id - Julia Maharani Dabi, siswa SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan, berhasil mewujudkan impiannya menjadi anggota Paskibraka Nasional. Cita-cita tersebut telah dia pupuk sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sejak kecil, Julia mengaku selalu antusias menyaksikan upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia melalui layar kaca. Dia terkesima melihat jajaran Paskibraka berbaris dan mengibarkan Sang Merah Putih di Kompleks Istana Kepresidenan. Keinginan untuk menjadi bagian dari pasukan tersebut pun tumbuh dalam diri Julia.

“Saya kalau 17-an, setiap hari saya nonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Impian Julia semakin kuat setelah kedua orang tuanya memberikan dukungan dan motivasi. Menurut kedua orang tuanya, postur tubuh Julia yang tinggi sangat cocok untuk menjadi anggota Paskibraka.

Kesempatan mewujudkan cita-cita itu datang ketika Julia menjadi siswa baru di SMAN 1 Wamena. Saat proses penerimaan siswa baru, kakak kelasnya tertarik dengan postur tubuh Julia yang tinggi dan tegap. Mereka juga memperhatikan cara Julia melangkahkan kaki.

Tak lama kemudian, kakak kelas Julia menanyakan kesediaannya untuk bergabung dalam pelatihan pasukan pengibar bendera. Julia langsung menyambut tawaran tersebut. "Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan," katanya.

Perjalanan Julia menjadi Paskibraka Nasional tidak mudah. Jarak rumah ke sekolah yang cukup jauh menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya.

Dengan sepeda motor, perjalanan dari rumah menuju sekolah membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Namun, ketika tidak memiliki uang untuk membeli bensin, Julia rela berjalan kaki agar tetap bisa mengikuti latihan baris-berbaris yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00.

Kondisi tersebut tidak membuat Julia menyerah. Dia tetap rajin berlatih karena yakin suatu saat dapat terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional.

"Saya sangat semangat karena menurut saya, saya percaya diri. Pasti saya akan bisa jadi Paskibraka nasional. Jadi bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati," imbuh dia.

Kerja keras Julia mulai membuahkan hasil ketika perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencari bibit Paskibraka Nasional di sekolahnya. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Julia bersama empat siswa lainnya dari SMAN 1 Wamena berhasil lolos ke tahap seleksi tingkat provinsi.

Julia kemudian mendapatkan pelatihan yang lebih intensif sebelum mengikuti proses verifikasi di Jakarta. Hasilnya, Julia dan satu teman sekolahnya berhasil lolos. Sementara tiga siswa lainnya kembali ke Papua Pegunungan.

Tantangan kembali dihadapi Julia ketika menjalani pelatihan di Jakarta. Dia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai daerah serta latar belakang di Indonesia.

Keterbatasan ekonomi juga sempat menjadi kendala. Julia bahkan tidak memiliki sepatu pantofel ketika hendak berangkat ke Jakarta. Karena tidak memiliki cukup dana, ia meminjam sepatu milik tetangganya.

Namun, ukuran sepatu tersebut ternyata tidak sesuai dengan ukuran kakinya. Akibatnya, Julia merasakan pegal luar biasa saat berlatih menggunakan sepatu tersebut.

Meski merasakan sakit, Julia tidak menyerah. Dia tetap menjalani latihan dengan sungguh-sungguh demi mewujudkan cita-citanya mengibarkan bendera pusaka di Istana Negara.

"Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat. Saya akan latihan dengan sungguh-sungguh supaya bisa mengibarkan bendera," jelas dia.

Julia terus berlatih menjelang upacara HUT ke-81 RI di Kompleks Istana Negara. Namun, ada kesedihan yang menyertai pencapaian tersebut karena kedua orang tuanya yang dahulu menjadi sumber motivasi sudah tidak dapat menyaksikan keberhasilannya.

Kedua orang tua Julia telah berpulang. Sang ibu meninggal dunia pada 2022, sedangkan ayahnya wafat dua tahun kemudian. Meski demikian, Julia bertekad membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu menggapai impian yang telah dicita-citakan sejak kecil.

"Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di Papua, bahwa saya dari Papua Pegenungan bisa mengibarkan bendera pusaka di Istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun," kata dia.

Topik Menarik