Danantara Siapkan IPO 4 BUMN Besar, Kajian Ditargetkan Rampung dalam 12 Bulan
JAKARTA, iNews.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara berencana membawa empat perusahaan pelat merah besar melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini bertujuan untuk menggalang pendanaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekaligus menambah likuiditas di pasar modal.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, saat ini Danantara Asset Management (DAM) tengah mengkaji rencana IPO keempat badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. Ditargetkan kajian tersebut rampung dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan ke depan.
"Itu memang prosesnya ada di dalam DAM, Insyaallah kita bisa fokus 6-12 bulan ke depan. Itu ada proses juga nanti dalam Bursa," kata Pandu saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Pandu menambahkan, aksi korporasi tersebut diharapkan dapat menambah likuiditas pasar sekaligus memperluas pilihan investasi bagi masyarakat di pasar modal.
"Ya, niatnya juga untuk menambah likuiditas juga ke pasar modal Indonesia," tuturnya.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan, sejumlah perusahaan BUMN dengan kapitalisasi pasar besar memiliki potensi untuk melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Dony mengungkap beberapa BUMN itu di antaranya adalah PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, operator pelabuhan Pelindo, hingga PT Angkasa Pura Indonesia. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
"Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus, contohnya ada Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, Angkasa Pura dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti," ucap Dony saat ditemui di Kementerian Keuangan, Rabu (5/8/2026).
Dalam empat tahun ke depan, Danantara akan mulai berfokus pada penciptaan nilai atau value creation. Pada tahap tersebut, berbagai opsi korporasi akan dievaluasi, mulai dari menjalin kemitraan strategis dengan investor, melepas saham ke publik melalui IPO, hingga mempertahankan status perusahaan sebagai perusahaan tertutup.
"Nah tahun keempatnya baru kita bicara mengenai value creation. Jadi mana yang akan kita strategic partnership, mana yang akan kita IPO, mana kita tetap tertutup. Nanti kita diskusikan juga dengan Kementerian Keuangan arahannya tentu sebagai milik negara," kata dia.









