Viral Kisah Deni Setiawan, Pekerja Migran di Taiwan yang Ubah Rasa Rindu Jadi Konten Komedi
JAKARTA, iNews.id – Kehidupan pekerja migran Indonesia di luar negeri tak selalu dipenuhi cerita manis. Di balik peluang meraih penghasilan lebih besar, ada tekanan pekerjaan, rasa lelah, hingga kerinduan mendalam kepada keluarga di Tanah Air.
Namun, kondisi tersebut justru menginspirasi seorang pekerja migran Indonesia di Taiwan, Deni Setiawan, untuk menciptakan konten komedi yang kini banyak digemari sesama WNI di Negeri Formosa. Seperti apa kisahnya?
Alih-alih mengikuti tren joget yang ramai di media sosial, Deni memilih membuat video komedi situasional yang mengangkat keseharian pekerja migran. Cerita yang disajikan pun sangat dekat dengan kehidupan para perantau, mulai dari perjuangan bekerja, kebiasaan sehari-hari, hingga momen saat rasa rindu kampung halaman datang.
Menurut Deni, malam hari menjadi waktu ketika banyak pekerja migran mencari hiburan melalui ponsel setelah menyelesaikan aktivitas kerja yang padat. Kondisi itu membuatnya terdorong menghadirkan tontonan yang bisa menghibur sekaligus terasa relevan.
"Kalau malam setelah pekerjaan selesai, teman-teman mencari hiburan melalui HP. Saya memilih komedi situasional karena kemampuan saya di situ, di mana sukanya kami bisa membeli barang yang dulu di Indonesia tidak terbeli, sementara dukanya adalah jauh dari keluarga," ujar Deni dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Konten yang dibuat Deni tidak mengandalkan drama berlebihan. Sebaliknya, ia menampilkan berbagai pengalaman nyata yang sering dialami pekerja migran Indonesia di Taiwan.
Pendekatan sederhana tersebut justru membuat video-videonya mudah diterima. Banyak WNI di Taiwan mengaku merasa terwakili karena kisah yang diangkat sangat mirip dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Tak hanya menjadi hiburan, video-video Deni juga menjadi ruang bagi sesama pekerja migran untuk saling berbagi cerita. Hal itu terlihat dari banyaknya interaksi di kolom komentar yang dipenuhi pengalaman serupa hingga dukungan antarsesama perantau.
Meski begitu, Deni mengaku tetap menerima adanya kritik dari sebagian penonton. Baginya, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar sebagai kreator konten.
"Namanya juga orang pasti ada yang tidak suka dan ada yang suka, tetapi kebanyakan dari mereka merasa terhibur dengan konten yang saya buat. Untuk saat ini, dukungan moral terbesar paling banyak datang dari teman dan pasangan," tuturnya.
Fenomena ini juga menggambarkan perubahan cara pekerja migran mengatasi tekanan psikologis. Jika waktu berkumpul bersama komunitas biasanya hanya bisa dilakukan saat hari libur di ruang publik seperti kawasan Stasiun Taichung, maka pada hari kerja hiburan lebih banyak diperoleh melalui media sosial.
Lewat konten komedi sederhana yang dekat dengan realitas kehidupan, Deni berhasil menghadirkan tawa sekaligus mengobati rasa rindu kampung halaman bagi ribuan pekerja migran Indonesia di Taiwan. Kisahnya pun menjadi bukti bahwa media sosial tak hanya menjadi tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang untuk saling menguatkan di tengah perjuangan hidup di negeri orang.










