Memprihatinkan, 20 Ribu Bayi di Indonesia Berpotensi Alami Kelainan Jantung

Memprihatinkan, 20 Ribu Bayi di Indonesia Berpotensi Alami Kelainan Jantung

Terkini | inews | Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:30
share

JAKARTA, iNews.id – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap temuan penting terkait kesehatan bayi di Indonesia. Apa fakta tersebut? 

Berdasarkan hasil skrining hingga akhir Juni 2026, sekitar 1 dari 23 bayi terindikasi berpotensi mengalami penyakit jantung bawaan kritis, sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Data Kemenkes per 28 Juni 2026 mencatat, sebanyak 490.000 bayi baru lahir telah menjalani enam metode skrining dalam program CKG. Dari jumlah tersebut, 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi menunjukkan indikasi kelainan yang mengarah pada penyakit jantung bawaan kritis.

Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penting dari pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis yang hingga 5 Juli 2026 telah diikuti sekitar 59,6 juta masyarakat di seluruh Indonesia. Melalui program ini, pemerintah memetakan berbagai persoalan kesehatan berdasarkan kelompok usia, mulai dari bayi hingga remaja.

Penyakit jantung bawaan kritis merupakan kondisi yang sudah ada sejak lahir akibat gangguan pembentukan struktur jantung selama masa kehamilan. Karena sebagian bayi tidak langsung menunjukkan gejala yang jelas, skrining sejak dini menjadi langkah penting agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, data yang terkumpul melalui CKG memberikan gambaran lebih jelas mengenai persoalan kesehatan masyarakat di setiap kelompok usia. Menurutnya, hasil tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan dan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.

"Sekarang kami memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kami tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA," kata Menkes dalam siaran persnya, Jumat (17/7/2026). 

"Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran, sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," tambah Menkes.

Selain mengungkap tingginya potensi penyakit jantung bawaan pada bayi, hasil CKG juga menunjukkan perbedaan masalah kesehatan pada kelompok usia lainnya. 

Pada anak sekolah dasar (SD), masalah yang paling banyak ditemukan meliputi karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.

Memasuki usia sekolah menengah pertama (SMP), kasus karies gigi masih mendominasi. Namun, kelompok usia ini juga mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa berupa depresi, disertai risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan masalah gizi.

Sementara pada kelompok sekolah menengah atas (SMA), gangguan kesehatan mental dan depresi ditemukan semakin meningkat. Selain itu, masih banyak dijumpai kasus karies gigi, hipertensi, risiko TBC, hingga obesitas.

Secara nasional, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dalam program CKG dengan prevalensi lebih dari 40 persen. Setelah itu disusul anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan kotoran telinga 7 persen, dan obesitas sebanyak 7 persen.

Menkes Budi menegaskan bahwa tujuan utama Program Cek Kesehatan Gratis bukan hanya mendeteksi penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh penanganan yang tepat agar tetap sehat dan produktif.

"Tujuan kami bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa," pungkasnya.

Topik Menarik