MotoGP Mandalika 2026 Bukan Sekadar Balapan, Dampak Ekonominya Tembus Rp4,9 Triliun

MotoGP Mandalika 2026 Bukan Sekadar Balapan, Dampak Ekonominya Tembus Rp4,9 Triliun

Olahraga | inews | Kamis, 18 Juni 2026 - 23:29
share

JAKARTA, iNews.id - MotoGP Mandalika 2026 kembali menjadi sorotan setelah dampak ekonomi berkelanjutan dari ajang balap motor paling bergengsi di dunia itu tercatat mencapai Rp4,9 triliun bagi kawasan Mandalika dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Indonesia kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Oktober 2026 di Mandalika International Circuit, NTB. Kehadiran MotoGP dinilai tidak hanya menghadirkan hiburan olahraga kelas dunia, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi yang nyata.

Direktur Utama PT InJourney, Maya Watono, mengungkapkan penyelenggaraan MotoGP di Mandalika telah memberikan dampak ekonomi berkelanjutan yang sangat besar bagi kawasan tersebut.

“Dampak dari MotoGP untuk kawasan Mandalika dan NTB secara keseluruhan sangat luar biasa. Tadi kita bicara dampak ekonomi, dampak ekonomi berkelanjutan MotoGP itu Rp4,9 triliun. Luar biasa sekali. Dan juga penyerapan tenaga kerja lokal, lalu peningkatan kualitas SDM,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

SDM Lokal Kini Diakui Internasional

Selain dampak ekonomi, Maya menyoroti peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal yang terjadi sejak MotoGP pertama kali digelar di Mandalika pada 2022.

Dia menjelaskan, pada penyelenggaraan perdana MotoGP di Mandalika, sebagian besar marshal masih didatangkan dari luar negeri, terutama dari Spanyol. Namun kondisi tersebut kini berubah total.

Saat ini seluruh marshal yang bertugas di MotoGP Mandalika berasal dari masyarakat lokal. Bahkan kemampuan mereka sudah mendapat pengakuan hingga tingkat internasional.

“Per hari ini semua marshal itu adalah masyarakat lokal. Yang luar biasa lagi kita mulai mengekspor marshal-marshal kita ke Jepang, ke Malaysia. Jadi sebenarnya SDM kita ini sangat luar biasa dan sangat bisa kita tingkatkan untuk tidak hanya di Indonesia, tetapi juga diekspor ke internasional. Jadi potensinya sangat luar biasa,” ujarnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, turut menyoroti besarnya peluang sektor sport tourism atau wisata olahraga yang terus berkembang di berbagai negara.

Menurut dia, nilai industri sport tourism global saat ini mencapai sekitar US$625 miliar atau setara Rp11.165 triliun. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$2,7 triliun atau sekitar Rp48.233 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

“Pertumbuhan penonton sudah terbukti, dampak ekonomi sudah terbukti, melahirkan talenta juga sudah terbukti. Insya Allah saya sebagai Menpora akan menjaga dan mendorong agar event ini terus dilaksanakan,” tuturnya.

Jadi Instrumen Strategis Penggerak Ekonomi

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan MotoGP memiliki peran lebih besar dibanding sekadar ajang olahraga internasional.

Menurut dia, MotoGP merupakan instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah sektor yang selama ini mencatat pertumbuhan tinggi seperti transportasi, akomodasi, serta makanan dan minuman menjadi pihak yang paling merasakan manfaat dari penyelenggaraan sport tourism.

“Event MotoGP ini, seperti yang disampaikan Pak Erick, tidak hanya sekadar event olahraga biasa. Justru ini adalah instrumen strategis kita untuk mendorong perekonomian,” ungkapnya.

Dia berharap penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 mampu memperkuat kontribusi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Di tengah-tengah raungan mesin MotoGP mudah-mudahan itu juga bisa memanaskan mesin ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

Topik Menarik