Bos Estee Lauder Kendal Ascher Meninggal Dunia usai Filler, Dokter Jelaskan Penyebabnya!
JAKARTA, iNews.id - Kematian mendadak eksekutif senior Estée Lauder, Kendal Ascher, memicu perhatian publik terhadap keamanan prosedur suntik filler yang selama ini populer untuk tujuan estetika. Pria berusia 56 tahun itu dilaporkan meninggal dunia akibat emboli paru yang diduga dipicu oleh material filler yang masuk ke aliran darah.
Menurut laporan pemeriksa medis Kota New York, Kendal Ascher mengalami gagal napas akut setelah terjadi penyumbatan pada pembuluh darah paru-paru. Kondisi tersebut dikenal sebagai emboli paru, yakni keadaan ketika suatu benda atau gumpalan menghalangi aliran darah menuju paru-paru sehingga tubuh kekurangan oksigen.
Kasus ini tergolong sangat langka, namun para ahli menilai insiden tersebut menjadi pengingat bahwa prosedur kosmetik tetap memiliki risiko medis yang perlu dipahami masyarakat.
Bagaimana Filler Bisa Memicu Emboli Paru?
Dokter spesialis dermatologi kosmetik, dr Kenneth Mark, menjelaskan bahwa salah satu kemungkinan penyebabnya adalah filler yang secara tidak sengaja masuk langsung ke dalam pembuluh darah saat proses penyuntikan.
Jika material filler masuk ke sirkulasi darah, zat tersebut dapat berpindah ke organ lain, termasuk paru-paru. Ketika mencapai pembuluh darah paru, filler dapat menyebabkan penyumbatan yang menghambat aliran darah dan pasokan oksigen ke seluruh tubuh.
Meski demikian, Mark menegaskan bahwa komplikasi seperti ini sangat jarang terjadi pada filler wajah. Risiko serupa lebih sering dikaitkan dengan prosedur estetika yang menggunakan volume besar, seperti transfer lemak pada area bokong.
"Sangat jarang terjadi pada filler wajah dan lebih sering dikaitkan dengan prosedur injeksi volume besar seperti transfer lemak pada bokong," kata dr Kenneth Mark, dikutip New York Post, Kamis (18/6/2026).
Filler Wajah Umumnya Aman
Di balik kasus tragis tersebut, para ahli menekankan bahwa filler wajah pada dasarnya merupakan prosedur yang aman apabila dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.
Filler adalah zat berbentuk gel yang disuntikkan ke bawah kulit untuk mengurangi kerutan, mengisi cekungan wajah, atau menambah volume pada area tertentu seperti pipi dan bibir. Bahan yang digunakan umumnya berupa asam hialuronat atau lemak dari tubuh pasien sendiri.
Dokter bedah plastik dr Lyle Leipziger menyebut jutaan orang menjalani prosedur filler setiap tahun dengan tingkat keamanan yang tinggi. Namun, syarat utamanya adalah tindakan dilakukan oleh dokter yang memiliki pelatihan khusus serta memahami anatomi wajah secara mendalam.
"Filler wajah sebenarnya sangat aman selama dilakukan oleh dokter bedah plastik atau dokter kulit yang berpengalaman dan memahami anatomi wajah," ujar dr Lyle Leipziger.
Efek Samping yang Normal Setelah Suntik Filler
Tidak semua reaksi setelah filler merupakan tanda bahaya. Beberapa efek samping ringan justru tergolong normal, antara lain:
- Bengkak selama 24 hingga 72 jam.
- Memar di area suntikan.
- Kemerahan pada kulit.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman sementara.
Keluhan tersebut biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari.
"Ketika filler disuntikkan, pembengkakan selama 24 hingga 72 jam merupakan hal yang normal," kata dr Mark.
Komplikasi Langka yang Perlu Diwaspadai
Komplikasi paling serius dari filler adalah vascular occlusion atau penyumbatan pembuluh darah akibat material filler.
Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa:
- Nyeri hebat yang tidak biasa.
- Perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan.
- Gangguan aliran darah pada jaringan sekitar.
Jika segera terdeteksi, dokter dapat memberikan suntikan enzim hyaluronidase untuk melarutkan filler tertentu dan memulihkan aliran darah.
Namun bila terlambat ditangani, komplikasi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan kulit, kebutaan, hingga emboli paru seperti yang diduga terjadi pada kasus Kendal Ascher.
"Komplikasi yang paling mengkhawatirkan adalah vascular occlusion, ketika filler secara tidak sengaja masuk ke pembuluh darah dan menghambat aliran darah," jelas dr Leipziger.
Area wajah yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi meliputi pelipis, area antara kedua alis, serta bibir.
Cara Mengurangi Risiko Saat Menjalani Filler
Para dokter menyarankan beberapa langkah penting sebelum menjalani prosedur filler:
1. Pilih dokter spesialis kulit atau bedah plastik yang berpengalaman dan tersertifikasi.
2. Pastikan produk filler yang digunakan telah memiliki izin edar resmi.
3. Hindari tergiur harga murah dari penyedia layanan yang tidak jelas kredibilitasnya.
4. Lakukan prosedur secara bertahap, bukan menyuntikkan filler dalam jumlah besar sekaligus.
5. Konsultasikan riwayat kesehatan dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi sebelum tindakan.
Selain itu, pasien disarankan menghindari konsumsi alkohol sebelum prosedur serta mengikuti seluruh petunjuk perawatan yang diberikan dokter.
Kematian Kendal Ascher menjadi pengingat bahwa tidak ada prosedur medis yang sepenuhnya bebas risiko, termasuk tindakan estetika yang tampak sederhana seperti suntik filler.
Meski komplikasi berat sangat jarang terjadi, masyarakat tetap perlu memahami manfaat dan risikonya serta memastikan prosedur dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Dengan edukasi yang tepat dan pemilihan klinik yang terpercaya, risiko komplikasi serius dapat ditekan seminimal mungkin.









