Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran

Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran

Terkini | inews | Kamis, 18 Juni 2026 - 13:46
share

PARIS, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ternyata memiliki alasan kuat untuk buru-buru menandatangani nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai dengan Iran. Trump tidak menunggu hingga upacara pengesahan resmi pada 19 Juni 2026 karena ingin seluruh poin dalam perjanjian segera berlaku.

Salah satu alasan utama Trump adalah keinginannya agar Selat Hormuz bisa dibuka secepat mungkin. Dengan berlakunya MoU, jalur pelayaran strategis tersebut diharapkan kembali normal sehingga pengiriman energi dan barang ke berbagai negara dapat segera pulih.

Trump juga berharap manfaat ekonomi dari perjanjian damai bisa dirasakan lebih cepat. Selain pembukaan Selat Hormuz, MoU tersebut mencakup pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran serta penghentian blokade maritim AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam waktu 30 hari.

Mengutip laporan Al Jazeera, Trump menandatangani MoU sesaat setelah menghadiri KTT G7 di Prancis, Rabu (17/6/2026) malam. Padahal, sebelumnya pengesahan resmi dokumen itu dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6/2026) di Jenewa, Swiss.

Penandatanganan berlangsung secara mendadak. Trump membubuhkan tanda tangan pada dokumen tersebut sebelum menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, di luar Kota Paris.

Trump memilih menandatangani dokumen secara digital dan meminta Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan hal yang sama. Dengan langkah itu, MoU dianggap telah berlaku sepenuhnya beserta seluruh konsekuensi yang menyertainya.

Selain pencabutan sanksi ekspor minyak Iran dan penghentian blokade maritim, perjanjian tersebut juga memuat kewajiban Iran untuk membersihkan Selat Hormuz dari ranjau dalam waktu 30 hari ke depan.

Kesepakatan itu diharapkan menjadi langkah penting dalam memulihkan stabilitas kawasan sekaligus mengembalikan kelancaran perdagangan dan distribusi energi global yang sempat terganggu akibat konflik antara AS dan Iran.

Topik Menarik