Piala Dunia 2026 Baru Dimulai, Wasit Langsung Jadi Sorotan gara-gara 3 Kartu Merah

Piala Dunia 2026 Baru Dimulai, Wasit Langsung Jadi Sorotan gara-gara 3 Kartu Merah

Olahraga | inews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 07:30
share

MEXICO CITY, iNews.id – Piala Dunia 2026 baru dimulai, tetapi sorotan tajam langsung mengarah kepada wasit setelah tiga kartu merah keluar dalam laga pembuka Meksiko vs Afrika Selatan di Stadion Azteca, Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Laga itu berakhir dengan kemenangan Timnas Meksiko 2-0.

Laga pembuka itu bukan hanya menghadirkan kemenangan meyakinkan El Tri. Pertandingan tersebut juga memunculkan pertanyaan besar soal arah kepemimpinan wasit sepanjang turnamen.

Timnas Afrika Selatan kehilangan dua pemain, yakni Yaya Sithole dan Themba Zwane. Meksiko juga harus bermain dengan 10 orang setelah Cesar Montes mendapat kartu merah pada masa injury time.

Situasi itu membuat Piala Dunia 2026 langsung nyaris menyamai jumlah kartu merah pada dua edisi sebelumnya. Piala Dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar masing-masing dikenal lebih minim kartu merah, dengan total hanya empat kartu merah sepanjang turnamen.

Kini, hanya dalam satu pertandingan, Piala Dunia 2026 sudah menghasilkan tiga kartu merah. Catatan tersebut membuat publik teringat pada Piala Dunia 2006 yang sangat keras dengan total 28 kartu merah.


Laga Pembuka Langsung Panas

Tiga kartu merah dalam satu laga Piala Dunia terakhir kali terjadi 20 tahun lalu pada edisi 2006. Turnamen itu bahkan mencatat duel Portugal vs Belanda sebagai pertandingan dengan rekor empat kartu merah.

Karena itu, laga Meksiko vs Afrika Selatan langsung mencuri perhatian. Banyak yang bertanya apakah Piala Dunia 2026 akan kembali menjadi turnamen dengan kartu merah bertebaran.

Namun, tidak semua keputusan wasit dalam laga tersebut bisa langsung dianggap berlebihan. Beberapa insiden memang masuk kategori pelanggaran serius dan layak mendapat hukuman berat.

Kartu merah pertama untuk Yaya Sithole menjadi keputusan paling mudah dipahami. Dia menjatuhkan Brian Gutierrez saat pemain Meksiko itu punya peluang jelas menuju gawang.

Meski Sithole mungkin tidak berniat melanggar, aksinya tetap menghentikan peluang mencetak gol. Dalam situasi seperti itu, wasit Wilton Sampaio punya dasar kuat untuk mengeluarkan kartu merah.

Keputusan kedua jauh lebih kontroversial. Themba Zwane mendapat kartu merah langsung setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) karena dinilai melakukan tindakan kekerasan kepada Roberto Alvarado.

Zwane terlihat terlibat kontak dengan Alvarado dalam duel tanpa bola. Pemain Meksiko itu kemudian terjatuh sambil memegangi kepala.

VAR yang dipimpin Nicolas Gallo dari Kolombia memanggil Sampaio ke monitor pinggir lapangan. Dari tayangan ulang, insiden tersebut tidak sepenuhnya mudah dibaca.

Zwane tampak mengenai sisi kepala Alvarado dengan tangan terbuka, bukan kepalan tangan. Karena itu, keputusan kartu merah tersebut terasa sangat keras bagi sebagian pihak.

Keputusan untuk Zwane menjadi penting karena menyentuh area yang selama ini diperhatikan Pierluigi Collina sebagai kepala wasit FIFA. Collina dikenal ingin menjaga perilaku pemain dan mengurangi aksi-aksi gelap dalam pertandingan.

Sejak ditunjuk sebagai kepala wasit FIFA pada 2017, Collina membawa pendekatan berbeda. Dia menekankan keadilan bagi kedua tim dan pemain tidak seharusnya dikeluarkan kecuali melakukan pelanggaran yang benar-benar pantas diganjar kartu merah.

Di bawah arahannya, aturan terkait denying an obvious goalscoring opportunity atau Dogso juga dibuat lebih lunak, terutama ketika penalti sudah diberikan. Karena itu, kartu merah menjadi lebih jarang muncul pada Piala Dunia 2018 dan 2022.

Namun, Collina juga memberi perhatian besar pada perilaku buruk pemain. Pemain yang menutup mulut saat konfrontasi, meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, atau melakukan blok ilegal dalam bola mati menjadi bagian dari hal-hal yang ingin ditekan.

Kartu merah untuk Zwane bisa saja masuk kategori upaya menjaga disiplin pemain. Namun, karena bukti visualnya tidak terlalu jelas, keputusan itu tetap membuka ruang perdebatan.

Kartu merah ketiga untuk Cesar Montes juga sempat terlihat kontroversial. Dia menghentikan laju Khuliso Mudau yang bergerak menuju area penalti pada masa injury time.

Awalnya, posisi Mudau tampak sedikit melebar sehingga kartu kuning terlihat sebagai hukuman yang mungkin. Namun, dari sudut lain, Mudau berpeluang besar membawa bola masuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan tanpa bek pelapis di dekatnya.

Karena itu, keputusan Sampaio memberi kartu merah kepada Montes masih bisa dipertahankan. VAR juga tidak memiliki alasan kuat untuk menyebut keputusan tersebut sebagai kesalahan yang jelas.

Laga pembuka ini memang membuat Piala Dunia 2026 langsung panas. Namun, terlalu dini untuk menyimpulkan turnamen akan dipenuhi kartu merah.

Piala Dunia 2026 masih menyisakan 103 pertandingan. Satu laga dengan tiga kartu merah bisa saja hanya menjadi anomali statistik, bukan tanda turnamen akan berubah menjadi festival hukuman.

Yang jelas, kemenangan 2-0 Meksiko atas Afrika Selatan tidak hanya memberi tiga poin untuk El Tri. Laga itu juga mengirim pesan jika wasit, VAR, dan disiplin pemain akan menjadi salah satu cerita besar sejak awal Piala Dunia 2026.

Topik Menarik