Oxford Ngebut Bikin Vaksin Ebola Varian Langka, Ready Tahun Ini?

Oxford Ngebut Bikin Vaksin Ebola Varian Langka, Ready Tahun Ini?

Gaya Hidup | inews | Kamis, 28 Mei 2026 - 11:36
share

OXFORDSHIRE, iNews.id - Universitas Oxford tengah mengembangkan vaksin untuk melawan varian langka virus Ebola bernama Bundibugyo yang saat ini mewabah di Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika Tengah. Apakah vaksin akan siap tahun ini?

Pengembangan vaksin dilakukan di tengah meningkatnya kasus Ebola yang telah mencapai lebih dari 1.000 kasus dengan sedikitnya 220 kematian dalam beberapa pekan terakhir. Data ini menjadi bukti bahwa Ebola varian Bundibugyo sangat mudah menyebar antarmanusia.

Varian Bundibugyo dikenal sebagai salah satu jenis Ebola yang langka dan berbahaya. Tingkat kematiannya dilaporkan bisa mencapai 50 persen. Hingga kini, belum ada vaksin khusus yang tersedia untuk menangani varian tersebut.

Menurut laporan Daily Mail, para ilmuwan Oxford kini berpacu dengan waktu untuk menciptakan vaksin yang diharapkan mampu melindungi pasien dari gejala berat sekaligus menekan penyebaran virus.

Meski begitu, vaksin tersebut tampaknya belum bisa langsung digunakan dalam waktu dekat. Tim peneliti memperkirakan vaksin baru dapat memasuki tahap uji coba pada manusia dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Artinya, meskipun pengembangannya dikebut tahun ini, belum ada kepastian vaksin dapat segera didistribusikan secara luas dalam beberapa bulan mendatang.

"Tidak ada jaminan vaksin ini akan efektif, tetapi jika berhasil, vaksin dapat melindungi pasien dari penyakit parah dan kematian," demikian isi laporan terkait pengembangan vaksin tersebut.

Wabah Ebola saat ini disebut sebagai salah satu yang tercepat sejak epidemi besar tahun 2014 di Afrika Barat yang menyebabkan lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan memperingatkan bahwa penyebaran wabah kini lebih cepat dibanding kemampuan pengendaliannya.

"Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi menyebar lebih cepat daripada kemampuan kami untuk mengendalikannya," ujar Tedros.

Gejala Ebola varian Bundibugyo umumnya dimulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan diare. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami pendarahan internal, gagal organ, hingga meninggal dunia.

Virus Ebola juga diketahui dapat bertahan dalam tubuh hingga 21 hari sebelum gejala muncul, sehingga meningkatkan risiko penularan tanpa terdeteksi.

Sejumlah negara kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lintas negara. Amerika Serikat memperketat pemeriksaan di bandara setelah seorang dokter asal AS dinyatakan positif Ebola usai bekerja di wilayah terdampak.

Topik Menarik