Kisah Mbah Marsiyah Jemaah Umur 105 Tahun, Pergi Haji Berkat Tabungan di Kaleng Bekas
MAKKAH, iNews.id - Komitmen pelayanan haji ramah lansia kembali dibuktikan dengan kedatangan jemaah kelompok terbang (Kloter) SUB 112 di Makkah. Jemaah haji tertua berusia 105 tahun asal Kabupaten Kediri, Mbah Marsiyah, tiba dengan selamat pada Jumat (22/5/2026).
Rombongan Mbah Marsiyah merapat di hotel pemondokan tepat pukul 05.30 waktu Arab Saudi. Suasana haru langsung terasa saat para petugas menuntunnya turun dari pintu bus secara perlahan.
Mengingat faktor usia yang tak lagi muda, petugas dengan cekatan memindahkan Mbah Marsiyah ke atas kursi roda. Langkah mitigasi ini dilakukan agar ia tidak kelelahan seusai perjalanan panjang dari tanah air.
Perempuan tangguh dari Desa Bulu ini menjadi bukti nyata bahwa tekad yang kuat mampu menembus batas keterbatasan ekonomi. Dia resmi mendaftarkan diri pada 2021 dan diuntungkan oleh program percepatan keberangkatan khusus lansia.
Biaya hajinya dikumpulkan dengan penuh kesabaran dari keuntungannya berdagang jenang atau bubur di pekarangan rumahnya. Lembaran uang ribuan rupiah selalu dia masukkan ke dalam kaleng rahasia sebagai tabungan haji.
"Uangnya ditabung di kaleng, di lemari, uang hasil penjualan bubur. Jualan di depan rumah, ada pohon sawo," kata Mbah Marsiyah dengan nada bergetar haru kepada Tim Media Center.
Tabungan receh tersebut akhirnya menggunung, dan sisa kekurangannya langsung dilunasi oleh anak-anaknya yang berbakti. Perjalanan spiritual ini juga memberikan pengalaman berharga karena ini adalah kali pertamanya menaiki pesawat terbang.
Di usianya yang sudah senja, pihak keluarga memberikan pengawasan yang sangat ketat terhadap mobilitas Mbah Marsiyah. Dia sempat mengalami insiden terjatuh di kamar mandi rumahnya hingga memerlukan alat bantu.
"Dulu pernah jatuh saat di kamar mandi, lalu dibelikan tongkat oleh anak. Sekarang sudah tidak apa-apa," kata Mbah Marsiyah menenangkan para petugas.
Kini, di Tanah Suci, anak perempuannya mendampingi secara melekat agar insiden tersebut tidak terulang. Kegiatan fisiknya pun sangat dibatasi agar energinya tidak terkuras sebelum masa wukuf di Arafah.
Sikap hati-hati Mbah Marsiyah ini mendapat apresiasi dari tim tenaga kesehatan haji Indonesia yang bertugas. Lansia yang sadar akan kapasitas fisiknya sangat membantu petugas dalam mencegah terjadinya kedaruratan medis.
Setelah berbincang hangat, petugas kloter langsung mengantarnya menuju kamar pemondokan yang telah disiapkan. Mbah Marsiyah kini difokuskan untuk beristirahat penuh sebelum memulai rangkaian ibadah wajib di Masjidil Haram.










