Presiden Prabowo Temui Mantan Gubernur BI, Bahas Pengalaman Hadapi Krisis

Presiden Prabowo Temui Mantan Gubernur BI, Bahas Pengalaman Hadapi Krisis

Terkini | idxchannel | Jum'at, 22 Mei 2026 - 19:04
share

IDXChannel - Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah menteri, mantan menteri hingga mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan hari ini, Jumat (22/5/2026).

Dalam pertemuan itu, para tokoh ekonomi itu membagikan pengalaman saat menghadapi krisis keuangan global pada 2008.

Adapun tokoh yang hadir yakni Gubernur BI periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah, eks Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan eks Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.

“Dan dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).

“Dan dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi dan mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai USD140, ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen,” lanjut Airlangga.

Airlangga turut membandingkan situasi krisis saat itu dengan saat ini. Dia mengatakan, keadaan ekonomi makro Indonesia jauh lebih baik secara fundamental.

“Nah, kalau kita cek dengan konteks hari ini relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” ujar dia.

Presiden, kata Airlangga, telah memerintahkan untuk memperkuat situasi finansial dan perbankan. Menurutnya, kondisi permodalan di perbankan masih perlu diperkuat.

“Dan tentu Bapak Presiden meminta kami beserta Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita," kata dia.

"Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,” jelas Airlangga.

(Nur Ichsan Yuniarto)

Topik Menarik