Emrus Sihombing Bicara Efek Pantul Cermin Film Pesta Babi: Semakin Dilarang, Semakin Booming

Emrus Sihombing Bicara Efek Pantul Cermin Film Pesta Babi: Semakin Dilarang, Semakin Booming

Terkini | inews | Rabu, 20 Mei 2026 - 01:31
share

JAKARTA, iNews.id - Pengamat politik Emrus Sihombing mengatakan pelarangan pemutaran Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang terjadi di sejumlah wilayah justru membuat film dokumenter tersebut semakin meledak. Menurut dia, masyarakat akan semakin penasaran dengan film itu.

"Saya prihatin terhadap kasus ini, kenapa ada pelarangan, tetapi di sisi lain kalau kita lihat teori efek cermin justru yang melarang itu mempromosikan film itu. Kalau tidak dilarang tidak se-booming itu. Jadi justru dia membantu, inilah efek pantul cermin," ujar Emrus dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Ada Apa di Balik Film Pesta Babi?' yang disiarkan iNews, Selasa (19/5/2026).

Emrus mengaku memiliki riwayat pendidikan S2 Komunikasi Pembangunan dari IPB, sehingga paham betul tentang pelaksanaan pembangunan. 

"Artinya, berdialoglah dengan masyarakat, berikan kesadaran, berikan pengetahuan, berikan perubahan sehingga mereka bisa menerima suatu ide atau inovasi. Lalu setelah pembangunan dilakukan, lakukan komunikasi," tuturnya.

Dia mengajak masyarakat untuk melihat pembangunan yang terjadi di wilayah Papua sebagaimana dalam film tersebut. Dia mempertanyakan apakah dalam proses komunikasi tersebut telah dilakukan.

"Sekarang kita lihat proyek sedang berjalan, apakah mereka berkomunikasi juga dengan masyarakat sekitar sampai mereka paham betul. Lalu, proyek itu berjalan terus dilakukan juga komunikasi," tutur dia.

Menurut dia, seharusnya komunikasi dilakukan dalam proses pembangunan Papua. Dia menyayangkian pembabatan hutan di kawasan tersebut dilakukan tanpa ada komunikasi dengan pihak terkait. 

Padahal, kayu-kayu hasil pembabatan hutan bisa menjadi penghasilan bagi masyarakat setempat.

"Jadi, dimulai dengan komunikasi, dilanjutkan dengan komunikasi, dan seterusnya dengan komunikasi. Ini yang tidak dilakukan, harmonisasi. Ini tidak dilakukan, langsung babat hutan. Salah satu pembabatan hutan saya lihat di film itu kayu-kayunya saja ditumpuk sedemikian rupa, padahal bisa komoditas lho itu," ucap dia.

"Andaikan kayu itu dibuat jadi suatu penghasilan bagi masyarakat setempat, kemudian bagaimana melibatkan masyarakat di dalam konteks pembangunan," imbuhnya.

Topik Menarik