Diduga Malapraktik, Bayi Patah Tulang usai Operasi Sesar di RSUD Sumba Timur NTT
WAINGAPU, iNews.id – Bayi yang baru dilahirkan mengalami patah tulang paha usai operasi sesar di RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak pertama pasangan Arnoldus Hapu Hunggu dan Marlin Loda Wahak itu diduga menjadi korban malapraktik.
Keluarga mengaku terkejut saat melihat kondisi fisik bayi laki-laki tersebut tidak normal sesaat setelah persalinan. Kekhawatiran itu terbukti setelah hasil rontgen menunjukkan adanya patah tulang paha yang cukup serius.
Arnoldus menceritakan bahwa istrinya merupakan pasien BPJS yang dirujuk dari Puskesmas Nggoa pada Kamis (7/5/2026) malam pukul 20.00 WITA. Berdasarkan surat rujukan, bayi dalam kandungan tersebut mengalami lilitan tali pusat sehingga memerlukan penanganan darurat.
Meski sudah berada di ruang kebidanan sejak malam, tindakan operasi sesar baru dilakukan pada Jumat siang. Bayi tersebut lahir dengan berat badan 3,42 kilogram dan panjang 51 sentimeter, namun dalam kondisi kaki yang memprihatinkan.
"Kami sangat sedih, ini putra pertama kami. Kami mempertanyakan mengapa operasi baru dilakukan keesokan harinya dan bagaimana prosedur persalinannya sampai kaki anak saya patah," ujar Arnoldus, Senin (11/5/2026).
Didampingi oleh Aliansi Masyarakat Peduli Sumba Timur (AMPST), pihak keluarga akhirnya resmi melaporkan kejadian ini ke Polres Sumba Timur. Laporan tersebut dilayangkan untuk menelusuri apakah terdapat unsur kelalaian atau malapraktik dalam penanganan medis tersebut.
Ketua AMPST, Ricky Prihatin Core, menegaskan perlunya transparansi dari pihak rumah sakit. "Harus ada penjelasan terbuka. Mengapa ada rentang waktu yang lama dari saat rujukan hingga operasi, dan apa penyebab pasti patah tulang tersebut," katanya.
Tanggapan RSUD Umbu Rara Meha
Pihak manajemen RSUD Umbu Rara Meha Waingapu membenarkan adanya peristiwa tersebut. Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Umbu Rara Meha, Samuel Lay Riwu, menyebutkan bahwa kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di rumah sakit tersebut.
Meski demikian, pihak rumah sakit mengklaim bahwa seluruh proses persalinan telah dijalankan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
"Kami tetap bertanggung jawab untuk memberikan penanganan medis secara intensif kepada bayi tersebut. Kami juga akan terus mendampingi pihak keluarga selama proses pemulihan," kata Samuel.
Saat ini, kasus tersebut tengah dalam penyelidikan Satreskrim Polres Sumba Timur. Polisi akan memanggil sejumlah saksi dari pihak keluarga maupun tim medis yang bertugas saat persalinan berlangsung.










