Jumlah Penderita Diabetes di Indonesia Jutaan Orang, Ahli Kesehatan: Butuh Penanganan Khusus
JAKARTA, iNews.id – Jumlah penderita diabetes di Indonesia yang mencapai jutaan orang menjadi perhatian serius. Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan khusus dan terintegrasi agar tidak memicu lonjakan komplikasi yang lebih luas.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Tercatat sekitar 19,47 juta penduduk hidup dengan penyakit tersebut.
Angka ini menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,6 persen dari total populasi. Artinya, lebih dari satu dari 10 orang di Indonesia berisiko mengalami gangguan metabolik tersebut.
Secara global, IDF mencatat 537 juta orang dewasa usia 20 hingga 79 tahun hidup dengan diabetes pada 2021. Penyakit ini juga menyebabkan 6,7 juta kematian atau satu orang meninggal setiap lima detik.
Menanggapi kondisi tersebut, dr Kelvin Candiago MM, MARS, DABRM, dokter ahli dan pengembang ekosistem kesehatan terintegrasi, menilai penanganan diabetes di Indonesia masih perlu pembenahan. Dia menyoroti pendekatan yang selama ini cenderung berfokus pada pengobatan atau medicine-centric.
Menurut dia, pengendalian kadar gula darah saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan gaya hidup dan perbaikan sistem metabolik tubuh. Pendekatan konvensional dinilai belum mampu menekan risiko komplikasi secara berkelanjutan.
"Pendekatan medicine - centric sangat penting untuk stabilisasi kondisi awal, namun secara desain belum ditujukan untuk perbaikan pola hidup jangka panjang. Dalam penanganan diabetes berkelanjutan, medikasi seharusnya diposisikan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir," kata dr Kelvin dalam keterangan persnya, Sabtu (18/4/2026).
Dia menekankan pentingnya kombinasi antara pengobatan, nutrisi, dan pemantauan kondisi pasien secara berkala. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mengendalikan diabetes secara jangka panjang.
Sebagai langkah konkret, dia memperkenalkan Protokol 3R yang terdiri dari tiga tahap penanganan. Tahap pertama adalah Road to Rescue untuk menstabilkan gula darah, dilanjutkan Road to Reverse guna memperbaiki kondisi metabolik.
Tahap terakhir adalah Road to Remission, yaitu fase ketika pasien mampu mempertahankan kadar HbA1c di bawah atau sama dengan 6,5 persen secara konsisten.
Protokol tersebut telah diterapkan melalui ekosistem layanan kesehatan terintegrasi mGanik. Sejak 2023, sekitar 500 pasien dilaporkan berhasil mencapai tahap perbaikan kondisi metabolik.
Bahkan, sekitar 7 hingga 10 persen pasien berhasil masuk fase remisi diabetes sesuai kriteria klinis. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan yang tepat dan konsisten dapat memberikan hasil yang signifikan.
"Melalui momentum Hari Diabetes Nasional ini, kami ingin menegaskan bahwa remisi bukanlah hasil instan yang bisa dipaksakan. Ini adalah peluang nyata dan terukur yang dapat dicapai apabila sistem dijalankan dengan tepat dan konsisten oleh pasien. Fokus kami di mGanik adalah memberikan harapan yang realistis dan kesempatan kedua bagi penyandang diabetes untuk mendapatkan kembali kualitas hidupnya," ujar dr Kelvin.
Dengan jumlah penderita yang terus meningkat, penanganan diabetes di Indonesia dinilai harus bergeser ke pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak hanya berfokus pada obat, tetapi juga mencakup perubahan gaya hidup dan pendampingan berkelanjutan bagi pasien.









