Pasien Diabetes Tidak Boleh Konsumsi Gula, Mitos atau Fakta?
Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Jumlah penyandang diabetes pada 2024,mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan diabetes membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Kondisi diabetes itu sering muncul pemahaman bahwa pasien harus membatasi konsumsi gula tambahan untuk menjaga gula darah mereka. Bahkan pasien diabetes juga kerap dilarang tak boleh konsumsi gula sama sekali. Mitos atau fakta?
Baca juga: UGM Bersama IHC Kolaborasi Gelar Pelatihan Sertifikasi Hipnoterapi Klinis
Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Em Yunir mengatakan bahwa pemahaman tersebut hanyalah mitos semata. Ia mengatakan pasien diabetes tetap bisa mengonsumsi asupan gula, namun tetap perlu dikontrol.
“Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi gula, tapi dengan batasan atau dalam jumlah kecil, masih diperbolehkan. Pasien juga bisa menggunakan pemanis rendah kalori. Gula dalam masakan juga diperbolehkan selama masih dalam jumlah aman,” ungkap Prof. Em Yunir, dikutip Sabtu (18/4/2026).Prof. Em Yunir juga mengatakan diabetes terjadi juga akibat pola hidup dan juga faktor genetik. Konsumsi gula berlebih menjadi salah satu faktor penyakit diabetes mengintai.
Baca juga: Meningkatkan Pelayanan Penanganan Diabetes Melitus Tipe 2 lewat Terapi Pengobatan Inovatif
Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, namun juga mulai menyerang orang berusia produktif hingga anak-anak. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini.
Prof. Em Yunir pun juga menyoroti kebiasaan ngopi anak muda. Konsumsi kopi dengan gula tinggi tentu bisa berdampak buruk pada gula darah.
“Kopi tanpa gula bisa jadi proteksi buat jantung. Tapi kalau gulanya tinggi, di minum dua gelas itu kalorinya sudah penuh,” paparnya.
“Pasien perlu memahami pentingnya pola hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan. Edukasi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi. Dengan pengelolaan yang baik, pasien dapat tetap produktif,” jelas Prof. Yunir.









