Time Magazine Nobatkan House of Tugu Jakarta Worlds Greatest Places 2026
House of Tugu Jakarta menembus panggung global melalui pengakuan bergengsi dunia. Koleksi warisan sejarah dan budayanya yang kaya membuat properti di kawasan Kota Tua ini masuk daftar World’s Greatest Places 2026 versi Time Magazine. Menariknya, House of Tugu Jakarta menjadi satu-satunya wakil Indonesia tahun ini.
Pencapaian tersebut menegaskan kekuatan budaya sebagai daya tarik utama destinasi. Pengakuan ini pun mengangkat posisi Jakarta dalam peta pariwisata dunia.
Baca juga: 26 Tahun Konsisten, Festival Musik Patrol UNEJ Jadi Wadah Pelestarian Budaya Jember
Bagian lobi hotel House of Tugu, Old Town Jakarta. Foto/Armydian Kurniawan
World’s Greatest Places 2026 dikenal luas sebagai rujukan destinasi berpengaruh secara global karena Time Magazine memiliki reputasi kuat. Kurasi World’s Greatest Places menyoroti lokasi dengan pengalaman unik dan bermakna. Seleksi dilakukan ketat dengan mempertimbangkan nilai budaya dan inovasi. House of Tugu Jakarta dinilai mampu menghadirkan keduanya secara autentik. Dalam ulasannya, Time Magazine juga menyoroti House of Tugu Jakarta sebagai ruang yang memperkenalkan kembali warisan budaya Peranakan kepada publik luas.
Salah satu artefak budaya Peranakan di Batavia dari tahun 1740. Foto/Armydian KurniawanMelalui koleksi seni, arsitektur, serta narasi sejarah yang hadir di setiap sudutnya, tempat ini menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pengunjung dengan lapisan sejarah Jakarta dan Nusantara.
Akar cerita tempat ini berawal dari perjalanan panjang menjaga sejarah Indonesia. Pendiri Tugu, Anhar Setjadibrata, mulai mengumpulkan artefak sejak 1960-an. Ia menemukan banyak peninggalan berharga dalam kondisi terabaikan di berbagai daerah.
Bersama sang istri, Wedya Julianti, upaya itu berkembang menjadi gerakan pelestarian budaya. Koleksi tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya Tugu Group. Kini, artefak itu hidup dalam ruang-ruang yang bisa dinikmati publik luas.
Semangat tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya di Tugu Group. Co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group, Lucienne Anhar, menegaskan misi utama mereka. “Kami ingin menjaga kisah masyarakat Indonesia tetap dikenang,” ujarnya. Pernyataan itu menggambarkan filosofi kuat di balik setiap ruang. Tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga narasi sejarah yang utuh. Karena itu, pengalaman pengunjung terasa personal dan mendalam.
Pengalaman budaya di lokasi ini hadir melalui berbagai elemen terkurasi. Koleksi seni dan arsitektur memperkenalkan warisan Peranakan secara hidup. Pengunjung juga dapat bersantap di Restoran Jajaghu yang menyajikan resep leluhur Nusantara.
Selain itu, Kafe Babah Koffie by Kawisari menghadirkan nuansa nostalgia era kolonial Jawa. Kedua konsep tersebut memperkuat identitas budaya dalam pengalaman kuliner. Setiap sudut menghadirkan cerita berbeda yang saling terhubung.
Pengembangan baru akan memperluas pengalaman tersebut pada 2026. De Tiger dijadwalkan hadir Mei sebagai speakeasy poolside dengan live music. Konsepnya terinspirasi kehidupan malam Batavia masa lampau yang penuh dinamika.
Selanjutnya, The Huang Museum akan dibuka pada Juni 2026. Museum ini menampilkan ribuan artefak dari arsip keluarga Tugu. Beberapa koleksi bahkan belum pernah dipamerkan kepada publik.










