Hipotermia pada Anak Bisa Berujung Kematian, Orang Tua Wajib Paham!
JAKARTA, iNews.id - Kasus bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia di kawasan Gunung Ungaran, Semarang, menjadi sorotan publik. Peristiwa ini kembali membuka mata banyak pihak tentang bahaya paparan suhu dingin ekstrem terhadap anak-anak.
Pakar kesehatan sekaligus epidemiolog, dr Dicky Budiman, menegaskan bahwa hipotermia pada anak bukan kondisi sepele. Ia menyebut, dalam dunia medis, hipotermia merupakan kondisi darurat yang bisa berujung fatal bila tidak ditangani dengan cepat.
"Hipotermia itu bukan sekadar kedinginan. Ini kondisi medis serius ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius dan bisa berkembang cepat hingga menyebabkan kematian," kata dr Dicky saat dihubungi iNews.id, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, anak memiliki kerentanan biologis yang jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa. Salah satunya karena rasio luas permukaan tubuh anak lebih besar, sehingga panas tubuh lebih cepat hilang.
Selain itu, sistem termoregulasi pada anak belum matang, sehingga tubuh mereka belum mampu menjaga suhu secara stabil. Kemampuan menggigil sebagai mekanisme alami untuk menghasilkan panas juga masih terbatas, ditambah cadangan energi yang lebih rendah.
"Akibatnya, anak lebih cepat mengalami kelelahan, bahkan bisa mengalami hipoglikemia yang memperparah kondisi," tambahnya.
Dicky juga menjelaskan bahwa lingkungan gunung memperbesar risiko tersebut. Kombinasi suhu rendah, angin, dan kelembaban membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat.
Gejala Awal Hipotermia pada Anak Umumnya Tidak Disadari
Lebih mengkhawatirkan lagi, ujar dr Dicky, gejala awal hipotermia pada anak sering tidak disadari. Anak belum mampu mengkomunikasikan kondisi tubuhnya, sementara orang tua kerap menganggap gejala seperti menggigil atau lemas sebagai hal biasa.
"Banyak kasus terlambat ditangani karena dianggap hanya kelelahan atau kedinginan biasa. Padahal sudah masuk fase berbahaya," tegasnya.
Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gangguan serius, mulai dari penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, aritmia jantung, hingga kematian.
Ia pun mengingatkan bahwa banyak kasus seperti ini sebenarnya bukan semata karena kondisi alam, melainkan kesalahan manusia dalam menilai risiko.
"Sering kali ini terjadi karena human error dan salah perhitungan risiko," tegas dr Dicky.










