Profil Uun Unajah, Founder Mojang Jajaka Jawa Barat yang Meninggal Dunia
JAKARTA, iNews.id - Profil Uun Unajah mendadak ramai dicari publik. Nama tersebut adalah sosok di balik Mojang Jajaka Jawa Barat, dan Uun Unajah meninggal dunia hari ini, Senin 13 April 2026.
Kepergian Uun Unajah untuk selamanya menyisakan duka mendalam bagi dunia kebudayaan dan kecantikan Indonesia, khususnya Jawa Barat. Perempuan yang kerap disapa 'Ibu' itu merupakan bunda dari ribuan Mojang dan Jajaka Jawa Barat.
Uun Unajah mengembuskan napas terakhir pada usia 80 tahun. Terkait penyebab kematian, hingga berita ini dibuat belum ada informasi terkait data tersebut.
Lantas, siapa sebenarnya Uun Unajah? Kenapa sosoknya begitu disegani dan dihormati di tanah Jawa Barat? Simak ulasan selengkapnya hanya di artikel ini.
Profil Uun Unajah, Founder Mojang Jajaka yang Meninggal Dunia Hari Ini
Lahir pada tahun 1946, Uun Unajah bukan sekadar praktisi kecantikan biasa. Ia adalah seorang akademisi dan organisatoris ulung.
Sebagai pemegang gelar Master Pendidikan (M.Pd) dan diploma internasional Cidesco, ia berhasil mengawinkan ilmu estetika modern dengan pakem tradisional yang sakral.
Namanya paling dikenal sebagai pendiri dan pembina utama ajang Mojang Jajaka (Moka) Jawa Barat. Baginya, Moka bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan wadah untuk mencetak generasi muda yang memiliki filosofi Gapura Paraguna, sosok yang tidak hanya elok dipandang, tapi juga berwawasan luas, beretika (tata krama), dan mencintai akar budayanya.
Penjaga Marwah Tata Rias Pengantin
Di dunia tata rias, Uun Unajah adalah rujukan utama. Melalui organisasi Tiara Kusuma (Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia), ia aktif memberikan edukasi agar para penata rias (MUA) masa kini tidak meninggalkan pakem asli.
Ia dikenal sangat detail dalam mengajarkan filosofi riasan. Salah satu karyanya yang monumental adalah buku 'Tata Rias Pengantin Kebesaran Sumedang' (2006).
Dalam buku tersebut, ia membedah makna di balik setiap helai kain dan aksesori, seperti Siger (mahkota) dan Seureuh Tumbal (daun sirih di kening), yang ia yakini sebagai simbol doa dan perlindungan bagi mempelai.
Tidak banyak praktisi kecantikan yang juga aktif menulis, Uun Unajah sadar bahwa ilmu akan hilang jika tidak dibukukan. Selain buku tentang pengantin Sumedang, ia juga merilis 'Pelestarian Busana dan Sanggul Daerah' (2009).
Buku-bukunya kini menjadi 'kitab suci' bagi para mahasiswa jurusan tata rias dan pengusaha salon di seluruh Indonesia. Ia berhasil membuktikan bahwa profesi penata rias adalah profesi terhormat yang memerlukan kedalaman ilmu dan rasa seni yang tinggi.
Kematian Uun Unajah menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Ucapan duka mengalir deras dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat hingga komunitas alumni Mojang Jajaka dari berbagai angkatan.
Mereka mengenang almarhumah sebagai sosok yang tegas namun penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu yang sedang mendidik anak-anaknya.










