Kisah Anak Donorkan Hati untuk Ayah, Beri Harapan Baru bagi Pasien Sirosis

Kisah Anak Donorkan Hati untuk Ayah, Beri Harapan Baru bagi Pasien Sirosis

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 11 April 2026 - 00:11
share

JAKARTA, iNews.id - Kisah dramatis penuh haru antara orang tua dan anak terjadi. Salah satu pasien sirosis berhasil selamat setelah menerima donor hati dari anak kandungnya.

Momen ini diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, saat meninjau langsung proses transplantasi di RSUP Fatmawati. Dia menyebut pasien kini dalam kondisi stabil usai menjalani operasi besar tersebut.

“Saya baru saja mengunjungi pasiennya dan pasiennya sudah dalam kondisi stabil. Pasien berusia 52 tahun. Donornya adalah anaknya sendiri yang berusia 26 tahun,” kata Dante.

Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana transplantasi hati dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sudah berada di ujung harapan. Terlebih, penyakit hati seperti sirosis sering kali tidak terdeteksi sejak dini.

Dante menegaskan, transplantasi hati merupakan terapi paling efektif untuk pasien dengan kondisi kronik. Bahkan dalam beberapa kasus, tindakan ini menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

“Transplantasi ini penting karena beberapa penyakit yang ada itu terapi definitifnya atau terapi terakhirnya atau terapi satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya adalah dengan melakukan transplantasi,” ujarnya.

Dia juga mengungkap fakta mengejutkan bahwa sirosis hati menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Mayoritas kasus dipicu oleh infeksi hepatitis B yang masih tinggi di masyarakat.

“Sirosis hepatis atau cirosis hati ini menemati ulutan ketiga kematian terbesar di Indonesia. Dan kebanyakan karena infeksi hepatitis B,” kata dia.

Untuk mendukung penanganan penyakit ini, pemerintah telah menyiapkan rumah sakit rujukan yang mampu melakukan transplantasi hati. Tiga fasilitas tersebut adalah RS Cipto Mangunkusomo, RSUP Dr Sardjito, dan RSUP Fatmawati.

Dia memastikan layanan transplantasi di Indonesia kini tidak kalah dengan luar negeri. Selain didukung tim dokter berpengalaman, pembiayaan juga dapat ditanggung BPJS sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Timnya sudah lengkap, dokter bedah digestifnya saja saya hitung yang ikut itu ada lima ya, ada lima dokter bedah digestif yang ikut dalam proses transplantasi hepar ini,” ujar dia.

Kisah pengorbanan seorang anak demi menyelamatkan ayahnya ini menjadi simbol harapan baru. Transplantasi hati kini bukan hanya prosedur medis, tetapi juga bukti bahwa peluang hidup masih terbuka bagi pasien sirosis di Indonesia.

Topik Menarik