Transplantasi Hati Jadi Harapan Hidup Pasien Sirosis di Indonesia, Begini Kata Wamenkes

Transplantasi Hati Jadi Harapan Hidup Pasien Sirosis di Indonesia, Begini Kata Wamenkes

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 10 April 2026 - 18:51
share

JAKARTA, iNews.id - Transplantasi hati menjadi harapan hidup pasien sirosis di Indonesia, di tengah tingginya kasus penyakit hati yang kerap terlambat terdeteksi. Kondisi seperti sirosis, gagal hati, hingga kanker hati masih menjadi ancaman serius karena sering muncul tanpa gejala awal yang jelas.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan transplantasi hati merupakan solusi medis penting bagi pasien dengan penyakit hati stadium lanjut. Menurut dia, prosedur ini bahkan menjadi satu-satunya terapi untuk menyelamatkan nyawa dalam kondisi tertentu.

“Transplantasi ini penting karena beberapa penyakit yang ada itu terapi definitifnya atau terapi terakhirnya atau terapi satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya adalah dengan melakukan transplantasi,” kata Dante di RSUP Fatmawati, Kamis (10/4/2026).

Dia menjelaskan, kasus sirosis hati di Indonesia memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Penyakit ini bahkan masuk dalam jajaran penyebab kematian terbesar di Tanah Air, dengan mayoritas kasus dipicu oleh infeksi hepatitis B.

“Sirosis hepatis atau sirosis hati ini menempati urutan ketiga kematian terbesar di Indonesia. Dan kebanyakan karena infeksi hepatitis B,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dante menyebut transplantasi hati umumnya dilakukan pada pasien dengan penyakit hati kronik yang sudah berada pada tahap lanjut. Saat ini, pemerintah telah menyiapkan sejumlah rumah sakit rujukan yang mampu melakukan prosedur tersebut.

Tercatat, ada tiga rumah sakit milik pemerintah yang telah memiliki fasilitas transplantasi hati, yaitu RS Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr Sardjito, dan RSUP Fatmawati.

Dia juga membagikan pengalaman terbaru saat meninjau pasien yang telah menjalani transplantasi hati di RSUP Fatmawati. Pasien tersebut kini dalam kondisi stabil setelah menjalani operasi dengan donor dari anggota keluarga.

“Saya baru saja mengunjungi pasiennya dan pasiennya sudah dalam kondisi stabil. Pasien berusia 52 tahun. Donornya adalah anaknya sendiri yang berusia 26 tahun,” ucapnya.

Dante menegaskan, kualitas layanan transplantasi hati di Indonesia saat ini sudah memadai, baik dari sisi fasilitas maupun tenaga medis. Bahkan, prosedur ini dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan sehingga masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri.

“Timnya sudah lengkap, dokter bedah digestifnya saja saya hitung yang ikut itu ada lima ya, ada lima dokter bedah digestif yang ikut dalam proses transplantasi hepar ini,” katanya.

Kesiapan fasilitas dan tenaga medis tersebut, pemerintah berharap semakin banyak pasien penyakit hati yang bisa tertolong melalui prosedur transplantasi di dalam negeri. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan layanan kesehatan rujukan sekaligus menekan angka kematian akibat penyakit hati di Indonesia.

Topik Menarik