Bedah Jantung Gratis dari KS Relief Bantu Selamatkan Nyawa Anak Indonesia, Ini Faktanya!

Bedah Jantung Gratis dari KS Relief Bantu Selamatkan Nyawa Anak Indonesia, Ini Faktanya!

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 6 Februari 2026 - 21:58
share

JAKARTA, iNews.id – King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre (KS Relief) kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan global dengan menggelar Program Bedah Jantung Gratis di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD Harapan Kita) Jakarta. Program ini berlangsung pada 2 hingga 6 Februari 2026 dan menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan jantung berbiaya tinggi di Indonesia.

Misi kemanusiaan ini menyasar penanganan medis kompleks, khususnya kasus jantung bawaan pada anak serta intervensi katup aorta pada pasien dewasa. Sejumlah alat kesehatan berharga mahal turut disediakan secara gratis, seperti Contegra untuk jantung bawaan dan prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) yang dikenal memiliki biaya sangat tinggi.

Program ini dinilai krusial mengingat RSJPD Harapan Kita setiap tahunnya menangani sekitar 1.300 operasi jantung pediatrik, dengan mayoritas pasien berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dan bergantung pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain tindakan medis, kerja sama ini juga mencakup transfer pengetahuan melalui kuliah tamu dari pakar intervensi jantung asal Arab Saudi.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah H. Amodi, menegaskan bahwa program ini merupakan arahan langsung dari Raja Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

"Ini adalah bagian dari kegiatan KS Relief sebagai sayap kemanusiaan untuk operasi jantung anak-anak dan operasi kualitatif tingkat lanjut atau TAVI di RSJPD Harapan Kita. Program ini sukses karena kerjasama yang sangat baik antara Kementerian Kesehatan RI dan Kerajaan Arab Saudi," kata dia dalam konferensi pers di RSJPD Harapan Kita, Jumat (6/2/2026).

Faisal menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi refleksi eratnya hubungan bilateral antara Arab Saudi dan Indonesia.

“Kegiatan ini merefleksikan dalamnya hubungan antara kedua negara di bawah pimpinan Raja Salman dan Presiden Prabowo Subianto,” tambah dia.

Kemenkes Sambut Baik Program Ini

Dari pihak Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyambut baik kehadiran KS Relief. Ia menyoroti masih besarnya tantangan penanganan jantung anak di Indonesia, terutama kesenjangan antara jumlah kasus dan kemampuan penanganan medis.

Dante mengungkapkan, dari sekitar 50.000 kasus kelainan jantung anak yang terdeteksi setiap tahun, hanya 5.000 kasus yang mampu ditangani akibat keterbatasan jumlah dokter spesialis dan biaya operasi yang sangat mahal.

“Sudah 260 operasi dilakukan oleh tim ini di Indonesia di Rumah Sakit Harapan Kita. Di Indonesia, kelainan jantung anak mencapai 8 dari 1.000 kelahiran. Dari 50.000 kasus, kita hanya sanggup menangani 5.000; sisanya mengantri,” ungkap Dante.

Ia menjelaskan, biaya operasi jantung anak rata-rata mencapai Rp100 juta, sementara BPJS Kesehatan hanya mampu menanggung sekitar 30 persen. Kondisi serupa juga terjadi pada kasus katup aorta, di mana biaya satu katup bisa mencapai Rp500 juta dan belum sepenuhnya ditanggung BPJS.

“Biaya operasi jantung anak rata-rata Rp100 juta, sementara BPJS mungkin hanya mengcover 30 persen. Begitu juga katup aorta yang harganya Rp500 juta dan tidak ter-cover BPJS. Bantuan King Salman senilai 62 miliar rupiah ini sangat berarti bagi masyarakat Indonesia,” tutur dia.

Dante menilai kehadiran KS Relief membantu menutup celah pembiayaan tersebut, sekaligus mendukung inovasi subsidi internal yang telah dilakukan oleh pihak rumah sakit.

Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan RSJPD Harapan Kita, dr Muhadi, menjelaskan bahwa kunjungan keempat KS Relief kali ini bersifat sangat spesifik karena menangani kasus-kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi.

“Ini kunjungan keempat KSR ke Harapan Kita. Untuk kali ini sangat spesifik; ada 31 kasus bedah jantung pediatrik kompleks yang dikerjakan. Kami juga melakukan penggantian katup aorta tanpa operasi (TAVI) pada 4 pasien lansia yang tidak bisa dioperasi biasa. Alatnya sangat mahal, hampir Rp500 juta, dan belum di-cover BPJS sehingga ini disubsidi melalui misi ini,” terang Muhadi.

Ia menambahkan, selain memberikan alat medis berbiaya tinggi secara gratis, misi kemanusiaan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi tenaga medis Indonesia untuk mendalami teknik intervensi jantung terbaru dari para ahli Arab Saudi.

Ke depan, Kementerian Kesehatan berkomitmen melakukan evaluasi bersama BPJS Kesehatan terkait pola pembiayaan, agar prosedur berteknologi tinggi seperti TAVI dapat lebih terjangkau bagi masyarakat luas. 

Kerja sama antara KS Relief dan RSJPD Harapan Kita pun diharapkan menjadi jembatan penting dalam meningkatkan kualitas layanan dan sumber daya manusia kesehatan nasional secara berkelanjutan.

Topik Menarik