Pasar Masih Dipengaruhi MSCI, Mirae Asset Sarankan Investor Selektif dan Cermati Saham Dividen

Pasar Masih Dipengaruhi MSCI, Mirae Asset Sarankan Investor Selektif dan Cermati Saham Dividen

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 4 November 2026 - 14:50
share

IDXChannel - Dinamika pasar saham domestik masih dipengaruhi ketidakpastian terkait status Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di tengah kondisi tersebut, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyarankan investor menerapkan strategi investasi selektif dengan memperhatikan fundamental emiten, likuiditas, serta potensi pembagian dividen.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai investor dapat menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas dan menyiapkan dana tunai untuk mengantisipasi perkembangan pasar.

Menurut dia, investor juga dapat mulai mencermati saham-saham dengan eksposur investor asing relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi.

"Investor bisa menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas, mempersiapkan kas untuk sementara waktu, dan mulai mencermati saham dengan eksposur investor asing yang relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi," ujar Wilbert dalam keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).

Mirae Asset menilai perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah, dan arah arus modal asing menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menentukan strategi investasi ke depan.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi 3,78 persen ke level 4.904 pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Tekanan pasar juga tercermin dari 624 saham yang melemah, sementara hanya 57 saham menguat.

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp760 miliar, terutama pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perkembangan positif. Surplus perdagangan Indonesia pada September tercatat sebesar USD3,36 miliar, sedangkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Oktober meningkat menjadi 54,0.

Dari sisi valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio forward price-to-earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price-to-book value (P/BV) sebesar 1,36 kali. Wilbert menilai penurunan valuasi tersebut lebih mencerminkan proses de-rating akibat tekanan arus dana.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan potensi revisi estimasi laba perusahaan, terutama pada saham perbankan berkapitalisasi besar yang memiliki ekspektasi pertumbuhan laba relatif tinggi.

Di sisi lain, Mirae Asset memperkirakan ketidakpastian klasifikasi Indonesia dalam MSCI masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar. Skenario dasar perusahaan sekuritas tersebut adalah kemungkinan reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market.

Potensi perubahan klasifikasi tersebut diperkirakan dapat menempatkan dana asing sebesar USD8 miliar hingga USD11 miliar dalam risiko, termasuk potensi arus keluar pasif (forced passive outflow) sekitar USD3 miliar. Risiko ini terutama terkonsentrasi pada sembilan saham kategori MSCI Standard.

Berdasarkan pengalaman historis negara-negara yang mengalami penurunan klasifikasi pasar, Mirae Asset memperkirakan masih terdapat potensi tekanan lanjutan sekitar 20 persen dalam denominasi dolar AS hingga keputusan MSCI pada Juni 2027. Meski demikian, proyeksi tersebut merupakan skenario berbasis pengalaman historis dan besaran penurunannya dapat berbeda di setiap negara.

Mirae Asset menilai pendekatan investasi yang selektif dengan mempertimbangkan fundamental, likuiditas, dan valuasi masing-masing emiten tetap menjadi faktor penting bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar saham domestik.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Topik Menarik