Wall Street Pekan Depan: Laporan Laba Akan Uji Reli Saham AS di Kuartal IV

Wall Street Pekan Depan: Laporan Laba Akan Uji Reli Saham AS di Kuartal IV

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:54
share

IDXChannel - Wall Street pekan depan terancam oleh sejumlah tantangan, termasuk lonjakan imbal hasil (yield) obligasi dan ketergantungan pasar yang tampak nyata pada belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Reuters, Minggu (4/10/2026), memasuki kuartal keempat, pasar saham sudah berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kinerja tahunan yang solid. Hingga perdagangan Jumat, indeks acuan S&P 500 telah mencatat kenaikan hampir 13 persen sepanjang 2026 dan berada sekitar 1 persen di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada pertengahan Agustus 2026.

Pasar menghadapi akhir 2026 yang sibuk, dengan dimulainya musim laporan laba perusahaan dan pertemuan krusial Federal Reserve dalam beberapa minggu mendatang, serta pemilihan umum sela pada 3 November yang akan menentukan kendali atas Kongres Amerika Serikat (AS).

"Periode ini memang cenderung kuat secara musiman, namun menurut saya tahun ini investor menghadapi sejumlah hambatan saat kita memasuki kuartal keempat," ujar Kepala Strategi Alokasi Aset Global Wells Fargo Investment Institute, Tracie McMillion.

Kenaikan Saham Cenderung Terjadi di Kuartal IV

Sejak 1945, S&P 500 mencatat kenaikan rata-rata sebesar 4,2 persen pada kuartal IV-2026, dengan indeks tersebut membukukan kenaikan dalam 85 persen kesempatan, menurut perusahaan riset CFRA. Persentase kenaikan rata-rata tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan tiga kuartal lainnya.

Kuartal IV pada tahun pemilihan umum sela umumnya menunjukkan kinerja yang lebih kuat lagi, dengan kenaikan rata-rata sebesar 6,4 persen, karena saham mendapat keuntungan dari hilangnya ketidakpastian pemilu.

Meskipun kuartal IV cenderung menunjukkan kinerja yang kuat, secara historis tahun pemilihan paruh waktu (mid-term) umumnya mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan; sebuah tren yang sejauh ini berhasil dilawan oleh pasar saham pada 2026. Menurut McMillion dari Wells Fargo Institute, indeks S&P 500 secara historis mencatat penurunan rata-rata sebesar 15 persen pada tahun pemilihan paruh waktu, sementara penurunan terdalam tahun ini sejauh ini hanya mencapai 9 persen.

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi dan Risalah The Fed Jadi Sorotan

Isu paling mendesak bagi investor saham adalah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi. Pada Kamis, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun sebagai acuan pasar menyentuh angka 5,34 persen, level tertinggi dalam 24 tahun terakhir. 

Imbal hasil telah melonjak akibat ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, kenaikan biaya energi yang memicu inflasi, serta meningkatnya persaingan memperebutkan modal seiring langkah perusahaan menerbitkan utang untuk mendanai ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Investor menilai tingkat imbal hasil yang lebih tinggi kemungkinan sudah menghambat laju kenaikan pasar. Kondisi ini dapat menciptakan persaingan investasi bagi saham dan menekan valuasi pasar saham, sekaligus menyebabkan biaya pinjaman menjadi lebih mahal di seluruh sektor ekonomi.

Faktor lain yang memengaruhi pergerakan imbal hasil adalah rencana kebijakan moneter The Fed. Bank sentral AS tersebut menaikkan suku bunga bulan lalu; untuk pertama kalinya dalam tiga tahun—sebagai upaya meredam inflasi yang berada di atas target. 

Risalah rapat tersebut akan dirilis pada Rabu dan dapat memberikan petunjuk bagi Wall Street mengenai prospek suku bunga The Fed, termasuk kemungkinan kenaikan lanjutan pada Oktober atau Desember. Menyusul data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat, pasar tetap bertaruh bahwa The Fed kemungkinan akan menunda kenaikan suku bunga kedua secara berturut-turut dalam rapatnya akhir bulan ini.

Prediksi Pertumbuhan Laba dan Belanja AI Jadi Sorotan

PepsiCo dan Delta Air Lines termasuk di antara segelintir perusahaan besar yang dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III pekan depan, sebelum bank-bank besar memulai musim pelaporan secara lebih luas pada pekan berikutnya.

Tahun ini, laba perusahaan telah melampaui proyeksi yang sudah tinggi, sehingga mendorong reli pasar saham. Namun, hal ini juga meningkatkan standar kinerja luar biasa yang dapat menjadi ujian bagi pasar.

Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatat kenaikan laba lebih dari 30 persen pada kuartal ketiga dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data LSEG IBES.

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah perkembangan terkait belanja besar-besaran oleh perusahaan hyperscaler AI untuk membangun infrastruktur, yang telah mendongkrak laba banyak perusahaan.

"Kinerja pasar saham AS sangat berkorelasi dengan tema AI," ujar Kepala Divisi Ekuitas AllianceBernstein, Nelson Yu.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik