Harga Minyak Naik Hampir 2 Persen, Pasar Waspadai Eskalasi Konflik Iran
IDXChannel - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu (28/10/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan ke Arab Saudi.
Serangan tersebut dinilai berpotensi mengganggu upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Melansir Investing, minyak mentah Brent naik 1 persen ke USD115,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 1,9 persen ke USD101,83 per barel.
Harga minyak sempat menembus level tertinggi dalam enam bulan di atas USD117 per barel pada pekan lalu, sebelum terkoreksi dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah Houthi pada Selasa menyatakan telah menargetkan kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi menggunakan rudal balistik.
Sebelumnya, kelompok tersebut dilaporkan menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta sejumlah stasiun pompa di sepanjang jalur pipa minyak East-West Arab Saudi.
Jalur pipa East-West menjadi salah satu rute alternatif untuk mengirimkan minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Karena itu, serangan terhadap infrastruktur tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan jalur ekspor energi Arab Saudi.
Risiko tersebut muncul ketika pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, mulai pulih dari gangguan parah akibat perang Iran.
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih berlangsung. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dilaporkan menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026). Media pemerintah Iran menyebut para pihak sepakat melanjutkan diskusi untuk memperkuat perdamaian dan keamanan.
Namun, serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi menimbulkan keraguan mengenai prospek deeskalasi konflik di kawasan tersebut.
Analis ING menilai kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan meningkatnya kembali eskalasi konflik.
"Kita kemungkinan harus menunggu hingga setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah," tulis analis ING dalam sebuah catatan.
Sejumlah laporan media juga menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan operasi militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu tersebut. Potensi langkah militer itu menambah ketidakpastian terhadap prospek pasokan minyak global.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak turut ditopang data persediaan minyak mentah AS. American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026.
Penurunan tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan persediaan meningkat 800.000 barel. Sebelumnya, persediaan minyak mentah AS juga tercatat turun 4,93 juta barel.
(DESI ANGRIANI)










