Harga Emas Jatuh ke Level Terendah 2 Bulan Lebih, Pasar Cermati The Fed
IDXChannel – Harga emas turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Kamis (22/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan di level tinggi lebih lama.
Harga emas spot turun 2,81 persen menjadi USD4.024,51 per troy ons, level terendah sejak 3 Agustus.
Harga minyak naik sekitar 3 persen ke level tertinggi dalam lima bulan setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari kawasan eksportir utama tersebut.
“Kami melihat harga energi meningkat semalam. Akibatnya, kekhawatiran terhadap tekanan inflasi ikut meningkat. Ketika tekanan inflasi meningkat, muncul kekhawatiran bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga,” kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, seperti dikutip Reuters.
Emas umumnya dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
Selain itu, data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi tersebut memperkuat peluang kebijakan moneter yang lebih ketat, meski pejabat The Fed masih diperkirakan menahan suku bunga saat pertemuan pada 27-28 Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 78 persen.
Pasar juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober.
Data tersebut dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara itu, ekonom Intesa Sanpaolo memperkirakan harga logam mulia belum memiliki arah yang jelas, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
“Emas dapat terus diperdagangkan selama beberapa kuartal di sekitar rata-rata USD4.200 per troy ons, didorong oleh kontraksi tajam permintaan perhiasan global,” tulis ekonom Intesa Sanpaolo dalam catatan riset.
Di sisi lain, India telah menerbitkan izin impor sekitar 6.500 ton perak untuk enam bulan ke depan.
Negara tersebut merupakan konsumen perak terbesar di dunia dan tengah berupaya memenuhi permintaan selama musim festival. (Aldo Fernando)










