IHSG Bangkit, tapi Level 6.000 Masih Sulit Ditembus

IHSG Bangkit, tapi Level 6.000 Masih Sulit Ditembus

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:34
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026), tetapi masih kesulitan menembus level psikologis 6.000.

Indikasi pemulihan teknikal belum terkonfirmasi, sementara tekanan jual asing dan sentimen global masih membayangi pergerakan indeks.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 14.39 WIB, IHSG menguat 0,51 persen ke level 5.956.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp7,69 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 21,74 miliar saham.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Technical Update, Rabu (14/10/2026), menilai pola hammer yang terbentuk pada perdagangan sebelumnya sempat mengindikasikan potensi rebound.

Namun, sinyal tersebut belum terkonfirmasi karena IHSG kembali mendapat tekanan jual saat mendekati level psikologis 6.000.

Level 6.000 kini menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk memperkuat peluang pemulihan.

Resistance berikutnya berada di 6.214. Selama indeks belum mampu kembali ke atas 6.000, tekanan bearish masih mendominasi pergerakan IHSG.

Di sisi bawah, level 5.850 menjadi support berikutnya, berdekatan dengan level Fibonacci 0,618. Jika support tersebut ditembus, risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai.

Secara teknikal, kata BRI Danareksa, pola rising wedge dan head and shoulders masih mendukung skenario bearish.

Tekanan juga tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,1 triliun pada sesi pertama.

Hingga sesi II, pergerakan IHSG belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan.

Dari eksternal, pergerakan IHSG turut dibayangi eskalasi konflik Arab Saudi-Houthi yang mendorong harga minyak mentah Brent ke sekitar USD106,65 per barel.

Kenaikan harga energi berisiko memperbesar tekanan inflasi global dan membebani aset berisiko.

Pelaku pasar juga menantikan rilis inflasi Amerika Serikat (AS) periode September yang dijadwalkan pada Rabu pukul 19.30 WIB.

Konsensus memperkirakan inflasi utama mencapai 3,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/mom). Sementara itu, inflasi inti diperkirakan sebesar 2,5 persen secara tahunan dan 0,2 persen secara bulanan.

Apabila inflasi AS melampaui ekspektasi, dolar AS dan imbal hasil US Treasury berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik