Rupiah Ditutup Bertenaga ke Rp17.899 per USD usai Rilis Defisit APBN September 2026

Rupiah Ditutup Bertenaga ke Rp17.899 per USD usai Rilis Defisit APBN September 2026

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 9 Oktober 2026 - 15:54
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (9/10/2026) sore, naik 16 poin atau sekitar 0,09 persen ke level Rp17.899 per USD.

Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang melakukan diskusi produktif dengan Iran.

"AS menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November, menyusul laporan media yang menyebutkan dia sedang mempertimbangkan serangan sebelum tanggal tersebut," ujarnya dalam risetnya.

Sementara itu, Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan, namun dia tetap fleksibel. Bahkan, dia menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja sebagai sesuatu yang kokoh dan stabil pada September meskipun laju penciptaan lapangan kerja melambat, seraya menambahkan bahwa tingkat inflasi masih terlalu tinggi.

Sementara data ekonomi yang dirilis pada Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 dari 199.000 pada minggu sebelumnya, angka yang berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200.000. 

Hari ini fokus pasar akan tertuju pada survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk bulan Oktober yang diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi dan inflasi di AS.

Dari sentimen dalam negeri, defisit APBN September 2026 tercatat sebesar Rp319 triliun defisit APBN September 2026, setara dengan 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara mencatatkan kenaikan 25 persen dan belanja negara naik 19 persen, tercatat senilai Rp2.341,5 triliun per September 2026, realisasinya 74,2 persen dari target pendapatan negara tahun ini senilai Rp3.153,6 triliun.

Pendapatan negara juga tercatat naik 25,5 persen (YoY) dan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun per September 2026, realisasinya 69,2 persen dari target belanja negara tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Belanja negara tercatat naik 19,0 persen (YoY). 

Belanja negara yang lebih banyak dari pendapatan negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB. Defisit di bulan lalu, (Agustus 2026) 0,9 persen. Hari ini, per akhir September 1,2 persen.

Sedangkan target defisit di akhir tahun 2,8 persen. Beban APBN bertambah Rp6 Triliun setiap harga minyak naik USD1 per barel keseimbangan primer tercatat mencapai Rp125,5 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer sepanjang tahun didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak penurunan cukup tajam defisit APBN.

Pada akhir Agustus 2025, defisit APBN mencapai Rp321,6 triliun atau setara 1,35 persen dari PDB. Artinya, defisit APBN September 2026 yang sebesar Rp319 triliun turun 14,13 persen dibandingkan realisasi APBN September 2025 (Rp371,5 triliun). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar rRp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.890-Rp17.950 per USD. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan diperkirakan berada di rentang Rp17.780-Rp18.060 per USD.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik