Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak, Investor Nantikan Musim Laporan Keuangan

Wall Street Melemah Tertekan Harga Minyak, Investor Nantikan Musim Laporan Keuangan

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 9 Oktober 2026 - 00:54
share

IDXChannel - Wall Street melemah pada perdagangan awal Kamis (8/10/2026) di mana lonjakan harga minyak dan imbal hasil Treasury yang mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran inflasi.

Selain itu, dimulainya musim laporan keuangan yang krusial diperkirakan menguji penguatan pasar baru-baru ini.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 88,19 poin atau 0,17 persen menjadi 51.096,19. S&P 500 turun 28,08 poin atau 0,36 persen menjadi 7.773,69, sedangkan Nasdaq Composite melemah 155,07 poin atau 0,58 persen menjadi 27.383,62.

Harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 4,2 persen menjadi lebih dari USD104 per barel, di tengah kekhawatiran berkelanjutan mengenai pasokan dari Timur Tengah setelah meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan Selat Hormuz.

Tekanan jual di pasar obligasi juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun berada di 5,29 persen, mendekati level tertingginya sejak 2002.

Aset-aset berisiko di seluruh dunia ikut tertekan pada Kamis. Saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar (megacap) secara umum melemah, dengan Amazon.com, Tesla, dan Nvidia turun antara 0,3 persen hingga 1,3 persen.

Saham-saham terkait chip juga melemah. Marvell Technology dan Intel masing-masing turun sekitar 3 persen, sementara AMD terkoreksi 2 persen.

Proyeksi laba kuartalan Samsung Electronics yang diperkirakan mencapai rekor belum mampu mengangkat sentimen pasar dan sahamnya ditutup melemah di Korea Selatan. Sementara itu, pesaingnya, Micron Technology, turun 1,4 persen.

Sementara itu, Wall Street Journal pada Rabu melaporkan bahwa Broadcom tengah menyiapkan pembiayaan senilai USD50 miliar untuk OpenAI, sementara Oracle juga sedang mencari pendanaan dengan nilai yang belum disebutkan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa penerbitan utang dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi dapat semakin memperketat persaingan dalam memperoleh modal.

Saham Broadcom dan Oracle diperdagangkan melemah di tengah tekanan yang lebih luas terhadap sektor teknologi.

Kenaikan kembali imbal hasil Treasury dan harga minyak membuat S&P 500 dan Nasdaq turun dari rekor tertinggi yang dicapai sehari sebelumnya, sementara Dow Jones mengakhiri tren penguatan selama empat hari berturut-turut.

“Kami menghadapi dua tekanan berlawanan, yaitu harga energi dan imbal hasil Treasury, sementara dari sisi data ekonomi relatif minim. Jadi, pasar cenderung menunggu dan melihat laporan keuangan yang benar-benar mulai bergulir pekan depan,” kata kepala strategi pasar di B. Riley Wealth, Art Hogan.

Delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 diperdagangkan melemah. Indeks sektor teknologi dan kesehatan mencatat penurunan terbesar.

Sementara itu, sektor energi dan barang konsumsi primer (consumer staples) memimpin penguatan, masing-masing naik sekitar 2 persen dan 1 persen. Sektor utilitas juga bergerak sedikit lebih tinggi.

Sejumlah bank besar, termasuk JPMorgan Chase, dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan pekan depan. Optimisme terhadap kuatnya kinerja keuangan perusahaan telah menopang saham-saham AS belakangan ini, meskipun perkembangan geopolitik masih bergejolak dan terdapat kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga.

Sektor teknologi dan energi diperkirakan mencatat pertumbuhan laba kuartalan terbesar. Sementara itu, laba kuartalan S&P 500 secara keseluruhan diperkirakan meningkat 30,6 persen berdasarkan data yang dihimpun LSEG.

Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengisyaratkan kemungkinan bank sentral AS mengambil jeda dalam pertemuan mendatang. Menurutnya, kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan untuk menurunkan inflasi menuju target The Fed sebesar 2 persen, tetapi terdapat fleksibilitas terkait laju kenaikan tersebut.

Para pedagang secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember masih terbuka, berdasarkan CME FedWatch.

Saham yang melemah lebih banyak dibandingkan saham yang menguat dengan rasio 1,64 banding 1 di NYSE dan 2,53 banding 1 di Nasdaq.

S&P 500 mencatat 3 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 12 saham yang mencatat level terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 13 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 128 saham yang mencatat level terendah baru.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik