Charlie Hospital (RSCH) Bidik Bisnis AI Healthcare, Buka Peluang Gandeng Perusahaan Asing

Charlie Hospital (RSCH) Bidik Bisnis AI Healthcare, Buka Peluang Gandeng Perusahaan Asing

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:30
share

IDXChannel -  PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) tengah menjajaki pengembangan bisnis healthcare berbasis artificial intelligence (AI) sebagai salah satu strategi perseroan untuk membuka sumber pertumbuhan pendapatan baru di luar bisnis rumah sakit konvensional.

Direktur Utama RSCH Junianto melihat perkembangan teknologi AI membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengembangkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Karena itu, perseroan mulai mengeksplorasi pemanfaatan AI dalam ekosistem bisnis healthcare.

"Kami melihat AI memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di sektor healthcare. Saat ini kami masih dalam tahap penjajakan untuk melihat use case yang paling sesuai dengan bisnis perseroan dan memiliki potensi untuk menjadi sumber pertumbuhan pendapatan baru ke depan," ujar Junianto dikutip Rabu (7/10/2026).

Pengembangan tersebut diarahkan tak hanya untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit, tetapi juga berpotensi menjadi layanan atau solusi healthcare berbasis teknologi yang memberi nilai tambah bagi pasien maupun perseroan. 

Ruang pengembangannya antara lain mencakup analisis data pasien, efisiensi proses administrasi, dukungan layanan medis, hingga optimalisasi operasional rumah sakit.

Buka peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global

Untuk mempercepat pengembangan bisnis tersebut, RSCH membuka peluang bekerja sama dengan perusahaan teknologi asing. Melalui kolaborasi ini, perseroan berpeluang mengombinasikan pengalamannya di industri kesehatan dengan kapabilitas teknologi dari mitra global, sehingga pengembangan use case AI dapat berjalan lebih cepat.

"Kami ingin memastikan bahwa pengembangan AI ini bukan hanya mengikuti tren teknologi, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat secara bisnis dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perseroan," kata Junianto.

Meski demikian, rencana tersebut masih berada dalam tahap penjajakan. Perseroan masih mengevaluasi model bisnis, kebutuhan teknologi, serta peluang monetisasi sebelum masuk ke tahap implementasi yang lebih luas.

Secara global, pasar AI di sektor healthcare juga menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat. Berdasarkan riset Fortune Business Insights, nilai pasar AI di sektor kesehatan global diperkirakan mencapai USD56 miliar pada 2026 dan berpotensi melesat hingga USD1.033,27 miliar pada 2034, atau tumbuh dengan CAGR 43,96 persen sepanjang periode tersebut.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan terhadap efisiensi, analisis data, otomatisasi, dan digitalisasi layanan kesehatan. Tren ini turut menjadi salah satu peluang yang dilirik RSCH untuk mengembangkan sumber pertumbuhan baru.

Dengan membuka peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global, perseroan berpotensi memperoleh akses terhadap teknologi dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengembangkan solusi AI secara lebih cepat. 

Di sisi lain, pasar healthcare Indonesia yang besar memberikan ruang bagi pengembangan solusi berbasis teknologi dalam jangka panjang.

Strategi tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru RSCH di luar bisnis rumah sakit konvensional. Terlebih, pendapatan RSCH pada semester I-2026 tercatat tumbuh 18,1 persen secara tahunan menjadi Rp32,7 miliar.

Sebagai gambaran, RSCH merupakan anak usaha grup konstruksi Wahyu Agung yang berbasis di Surabaya, dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia melalui IPO sebanyak 530 juta saham atau 20 persen dari modal disetor dengan harga penawaran Rp105-Rp125 per saham.

Untuk mendongkrak kinerja tahun ini, Junianto sebelumnya turut menyatakan akan mengandalkan pasien BPJS Kesehatan sebagai salah satu penopang utama volume kunjungan maupun pendapatan rumah sakit.

Dengan demikian, rencana pengembangan bisnis AI tersebut dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pendapatan RSCH agar pertumbuhan perseroan tidak hanya bergantung pada okupansi tempat tidur dan skema pembiayaan BPJS.

Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai penjajakan bisnis healthcare berbasis AI merupakan langkah positif bagi RSCH karena membuka peluang sumber pertumbuhan baru di luar bisnis rumah sakit konvensional, sekaligus memberikan optionality pertumbuhan dalam jangka panjang melalui model bisnis yang lebih scalable.

"Inisiatif AI di sektor healthcare ini cukup menarik karena dapat menjadi growth driver baru bagi RSCH. Jika perseroan mampu menemukan use case yang tepat dan mengembangkan model monetisasi yang jelas, kontribusinya terhadap pertumbuhan bisnis ke depan berpotensi cukup signifikan," ujar Rudy.

"Kalau bisnis inti rumah sakit tetap tumbuh dan pada saat yang sama perseroan berhasil membangun lini healthcare berbasis AI, maka RSCH berpotensi memiliki multiple growth driver. Ini yang menurut kami menarik untuk dipantau investor," tutur dia.

Di pasar saham, RSCH pada perdagangan 6 Oktober 2026 ditutup di level Rp575 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,52 triliun.

Dengan skala bisnis yang masih relatif kecil, keberhasilan menciptakan sumber pendapatan baru berpotensi memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap profil pertumbuhan perseroan.

Karena itu, rencana pengembangan bisnis AI healthcare serta peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global menjadi salah satu katalis yang menarik untuk dicermati investor. Jika terealisasi dan mampu menghasilkan model bisnis yang scalable, lini baru tersebut berpotensi memperluas ekosistem bisnis RSCH sekaligus menambah sumber pertumbuhan perseroan di luar ekspansi kapasitas rumah sakit.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik