Benua Biru Terancam Membeku ketika Harga Gas Terus Melesat ke 70,85 Euro/MWh

Benua Biru Terancam Membeku ketika Harga Gas Terus Melesat ke 70,85 Euro/MWh

Ekonomi | sindonews | Senin, 7 September 2026 - 18:44
share

Ancaman krisis energi kembali membayangi Eropa di tengah memanasnya pertempuran Timur Tengah. Harga gas alam acuan Eropa, Dutch TTF untuk pengiriman Oktober 2026, melesat tajam hingga menyentuh rekor tertinggi harian sebesar 70,85 euro per megawatt-hour (MWh) atau setara Rp1,44 juta (kurs 1 euro sentuh Rp20.400).

Lonjakan drastis ini dipicu perang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz-jalur vital yang biasanya mengalirkan seperlima dari total perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia. Ketegangan yang membuat rute maritim tersebut praktis tertutup kini mengancam pasokan LNG global persis saat negara-negara Eropa berlomba mengisi tangki penyimpanan gas mereka sebelum musim dingin tiba.

Berdasarkan data Gas Infrastructure Europe (GIE), kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa (UE) baru terisi 64,7, berada jauh di bawah histori rata-rata tahunan. Mahalnya harga pasar membuat proses pengisian cadangan melambat signifikan, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa Belanda dan Jerman bakal meleset dari target pengisian masing-masing sebesar 80 dan 70 sebelum batas waktu 1 November 2026.

Baca Juga: UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG

Selisih antara harga gas musim panas dan perkiraan harga musim dingin terlalu tipis -bahkan negatif- sehingga tidak mampu menutup biaya dan risiko penyimpanan bagi para pemasok. Direktur Asosiasi Penyimpanan Gas Jerman (INES), Sebastian Heinermann memperingatkan, bahwa jika kapasitas simpan yang minim bertemu dengan gelombang dingin ekstrem, industri Jerman terancam gulung tikar. "Perusahaan akan terpaksa memangkas produksi karena tidak sanggup membayar lonjakan harga gas," tegas Heinermann.

Raksasa energi QatarEnergy telah memperpanjang status force majeure pengiriman LNG ke Italia hingga awal November. Padahal kontrak jangka panjang ini menyumbang sekitar 10 dari total konsumsi gas tahunan Italia.

Baca Juga: Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan RusiaMeskipun impor langsung UE dari kawasan Teluk relatif kecil -seperti Qatar yang menyumbang 3,7 impor gas UE pada 2025-, gangguan di Selat Hormuz memicu efek domino yang merusak stabilitas harga global. Pembeli dari Eropa kini terpaksa berebut kargo LNG yang tersisa di pasar bebas melawan pembeli dari negara-negara Asia.

Analis Goldman Sachs, Samantha Dart dan Laura Cyr menekankan, bahwa jika normalisasi ekspor energi Timur Tengah berjalan lambat hingga 2027, harga gas TTF Eropa diperkirakan bakal terdorong melewati 100 euro per MWh.Analisis dari Oxford Economics menunjukkan bahwa perubahan harga grosir membutuhkan waktu rata-rata sekitar enam bulan untuk berdampak penuh pada tagihan energi konsumen rumah tangga, meski kecepatannya bervariasi di tiap negara.

Konsumen di Belanda, Prancis, Italia, dan Spanyol akan merasakan kenaikan tagihan dalam hitungan bulan. Sedangkan negara seperti Jerman dan Austria membutuhkan waktu hingga hampir satu tahun sebelum lonjakan harga mencapai puncaknya di tingkat eceran.

Selanjutnya Italia dinilai sebagai salah satu negara paling rentan karena ketergantungan tinggi pada gas dan mekanisme penyesuaian harga eceran yang sangat cepat.

Topik Menarik